Gol tercipta setelah kapten Prancis Kylian Mbappe melakukan crossing ke depan gawang Austria namun bola yang disundul Wober berubah arah dan masuk ke gawang sendiri yang dikawal Patrick Pent.
Mbappe sendiri mengalami cedera dibagian hidung pada pertandingan tersebut. Pelatih Prancis Didier Deschamps menegaskan pemain Real Madrid itu tidak dalam kondisi baik usai cedera didapatkannya dan kemungkinan patah hidung, namun Philippe Diallo, Presiden Federasi Sepak Bola Prancis mengatakan kepada wartawan Mbappe tidak memerlukan operasi, namun sejauh mana cederanya masih belum diketahui.
Cedera Mbappe berawal saat mantan pemain PSG itu menyundul bola dan wajahnya membentur bahu bek Austria Kevin Danso. Penyerang berusia 25 tahun itu menerima perawatan di lapangan dengan banyak darah di wajahnya dan kemudian berjalan ke sisi lapangan dengan Prancis ingin menggantikannya dengan Olivier Giroud.
Namun ketika pertandingan dimulai kembali tanpa memberikan kesempatan bagi Prancis untuk melakukan pergantian pemain, Mbappe kembali masuk ke lapangan tanpa izin dan duduk di lapangan hingga akhirnya menerima kartu kuning sampai akhirnya digantikan oleh Giroud.
"Dia tidak dalam kondisi yang baik," kata pelatih Didier Deschamps dalam konferensi pers setelah pertandingan. "Hidungnya mengalami benturan keras. Kami harus memeriksanya tetapi tampaknya cukup rumit, yang sangat disayangkan bagi kami. Staf medis sedang memeriksanya. Ini masih harus dilihat dan saya tidak bisa memberikan jawaban yang tepat pada tahap ini," imbuh Deschamps.
Mbappe, yang telah mencetak 47 gol dalam 80 penampilan untuk Prancis, akan menjadi bagian integral dari harapan mereka untuk memenangkan gelar Eropa ketiga.
Mbappe, yang belum mencetak gol di Piala Eropa untuk menambah koleksi 12 golnya di Piala Dunia, akan bergabung dengan Real Madrid dari Paris St-Germain pada musim panas ini.
Deschamps ditanya apakah ia akan absen dalam pertandingan berikutnya melawan Belanda pada hari Jumat. "Saya tidak akan berandai-andai, tetapi tim Prancis dengan Kylian akan selalu lebih kuat bersamanya," ujar mantan pemain timnas Prancis itu. "Jika kabarnya tidak seperti itu, maka kami harus berjuang tanpa dia," tegasnya.
Selain Mbappe, yang juga jadi sorotan pada pertandingan tersebut adalah pemain Prancis berusia 33 tahun N'Golo Kante, yang telah menunjukkan alasan mengapa pelatih Didier Deschamps sangat ingin memasukkannya ke dalam skuat untuk Euro setelah dua tahun absen dari panggung internasional.
Kante diketahui terakhir kali bermain untuk Prancis dalam pertandingan UEFA Nations League melawan Denmark pada Juni 2022 sebelum melakukan comeback dalam pertandingan persahabatan melawan Luksemburg awal bulan ini.
Dia mungkin sekarang sedang menjalani kariernya di Liga Pro Saudi bersama Al-Ittihad, tetapi Deschamps tahu dia memiliki silsilah yang kaya dan rekor kemenangan yang telah terbukti dan Kante masih memenuhi semua kriteria - meskipun berada di tahap akhir dari kariernya yang berkilauan.
Kante memenangkan Piala Dunia bersama Prancis pada tahun 2018, Liga Premier bersama Leicester City dan Chelsea dan juga mengangkat trofi Liga Eropa dan Liga Champions saat berada di Stamford Bridge.
Dan dengan bukti yang ia tunjukkan dalam awal kemenangan yang selalu sangat penting dalam turnamen-turnamen ini, Kante tidak sedang dalam perjalanan sentimental di Jerman.
Dari peluit pertama hingga terakhir dalam kemenangan 0-1 ini, Kante menunjukkan ia masih memiliki semua naluri lamanya untuk mengendus bahaya, menjaga lini tengah - dan sebagai konsekuensinya, tim Prancis terus berjalan dan bertindak sebagai perisai yang tidak dapat ditembus dari ancaman Austria.
Hal tersebut terangkum dalam satu momen penting di menit-menit akhir pertandingan, ketika Austria mengejar gol penyama kedudukan, pemain pengganti Patrick Wimmer berhasil lolos dan berlari ke arah penjaga gawang Prancis, Mike Maignan.
Kante terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan, yang menunjukkan nilainya bagi Deschamps. Tim-tim hebat selalu senang memiliki seorang Mbappe - namun mereka juga membutuhkan Kante.
Kante membuktikan dua tahun tidak membela Perancis dan bermain di lingkungan yang tidak terlalu ketat di Saudi Pro League tidak mengurangi daya saing atau rasa laparnya akan kesuksesan.
Editor: Aspian Nur