"Juventus melanggar kerangka peraturan UEFA dan melanggar perjanjian yang ditandatangani pada Agustus 2022 dan diputuskan untuk dikeluarkan dari kompetisi klub pria UEFA pada musim 2023/24," bunyia pernyataan UEFA dilansir dari bbc.com Sabtu (29/7/2023) hari ini.
Setengah denda yang dijatuhkan, 10 juta euro (Rp151 miliar), hanya akan diterapkan jika Juventus gagal mematuhi aturan FFP dalam waktu tiga tahun ke depan.
Posisi Juventus di Conference League akan digantikan Fiorentina karena musim lalu La Viola finis di posisi delapan Liga Italia.
Pihak Juventus memberi respons hukuman UEFA dengan tidak melakukan banding. Juventus menerima hukuman tersebut, namun tetap meyakini tidak melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan UEFA.
Juventus juga diyakini tidak melakukan banding karena Conference League merupakan kompetisi klub Eropa paling rendah. Mereka ingin fokus ke kompetisi domestik demi bisa berlaga di Liga Champions musim depan.
"Kami menyesali keputusan Badan Kontrol Keuangan Klub UEFA. Kami tidak sepakat dengan interpretasi yang telah diberikan tentang pembelaan kami, dan kami tetap yakin akan kebenaran tindakan kami dan validitas argumen kami. Namun, kami telah memutuskan untuk tidak mengajukan banding atas keputusan ini," kata Presiden Juventus Gianluca Ferrero.
Pada Mei lalu, Juventus telah setuju untuk membayar denda lebih dari 700 ribu euro kaena dituduh merekayasa nilai transfer, gaji dan laporan keuangan terkait keuntungan modal.
Di pentas Liga Italia, Juventus juga mendapatkan sanksi pengurangan poin, sehingga finis ketujuh di Liga Italia musim lalu.
Selain Juventus, UEFA juga memberikan denda kepada klub Liga Inggris Chelsea karena juga diduga melanggar peraturan FFP sebagai akibat dari "menyerahkan informasi keuangan yang tidak lengkap".
Masalah ini terkait dengan transaksi yang terjadi antara tahun 2012 dan 2019. Chelsea didenda sebesar £8.57 juta, setara dengan Rp164 Miliar.
The Blues diketahui telah menghabiskan sekitar £600 juta, setara dengan Rp11 Triliun, untuk 19 pemain baru sejak pemilik baru Todd Boehly mengambil alih klub pada Mei 2022, tetapi denda mereka terkait dengan periode tujuh tahun ketika Roman Abramovich mengendalikan klub.
"Menyusul penjualan klub pada Mei 2022, kepemilikan baru mengidentifikasi, dan secara proaktif melaporkan kepada UEFA contoh-contoh pelaporan keuangan yang berpotensi tidak lengkap di bawah kepemilikan klub sebelumnya," tulis UEFA.
Chelsea mengatakan mereka sepenuhnya bekerja sama dan membantu UEFA dalam penyelidikan mereka dan menandatangani perjanjian penyelesaian dengan badan pengatur.
"Sesuai dengan prinsip-prinsip utama grup kepemilikan klub tentang kepatuhan penuh dan transparansi dengan regulator, kami bersyukur kasus ini telah diselesaikan dengan pengungkapan informasi secara proaktif kepada Uefa dan penyelesaian yang sepenuhnya menyelesaikan masalah yang dilaporkan," kata manajemen Chelsea.
Editor: Aspian Nur