Bukan laga mudah, karena tim asal Italia meski bukan berstatus scudetto, Inter Milan, bisa jadi batu sandungan pada pertandingan nanti.
Duel dua penyerang tajam tersaji. Kalau City punya Erling Haaland, Inter yang sejatinya tak diunggulkan di final ini, memiliki senjata tajam, Lautaro Martinez.
Nerazzurri selama ini memiliki tuah dengan keberadaan bomber asal Argentina. Mulai dari Hernan Crespo, Diego Milito, hingga Mauro Icardi, Inter Milan selalu mengangkat trofi dan bukan tak mungkin tahun 2023 ini bisa jadi tuah untuk Martinez.
Cepat, kuat, berani dan efektif baik di udara maupun di lapangan, itulah Martinez, yang dijuluki The Bull alias Sang Banteng, bahaya terbesar bagi Manchester City saat mereka berusaha memenangkan Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
“Dia adalah salah satu pemain terbaik di dunia dan dia adalah seorang pemenang Piala Dunia,” ujar penjaga gawang Inter Andre Onana. “Saya harap dia akan tampil on fire untuk kami karena kami membutuhkannya dalam kondisi prima. Itu akan sangat penting bagi kami,” tegasnya.
Tujuh pertandingan adalah ukuran sampel yang terlalu kecil untuk menilai seorang pemain dan seandainya tendangan Martinez dalam pertandingan pembuka Argentina melawan Arab Saudi tidak dianulir oleh keputusan offside VAR yang sangat marjinal, siapa yang tahu bagaimana hasilnya akan berbeda baginya di Qatar tahun 2022 lalu.
Fokuslah pada bagaimana pemain berusia 25 tahun ini memimpin lini depan Inter. Lihatlah bagaimana ia menjadi rekan yang efektif bagi Romelu Lukaku dan Edin Dzeko, dua tipe penyerang yang sangat berbeda.
Fokuslah pada 21 golnya di Serie A, kedua terbanyak setelah Victor Osimhen, yang mencetak 26 gol untuk membantu Napoli mengamankan gelar liga pertama mereka sejak 1990 dan yang ketiga dalam sejarah mereka.
Tidak heran jika Lionel Messi ingin membawa Martinez ke Barcelona empat tahun yang lalu dan mengapa teman baik Messi, Luis Suarez, menyebutnya penyerang spesial dengan pergerakan yang fantastis.
Kemajuan Martinez semakin mengesankan ketika banyak yang tahu ia bergabung dengan Inter dengan harga sekitar 22 juta poundsterling pada tahun 2018, ia hanya memiliki kurang dari tiga tahun sepak bola senior, dan tidak memiliki pengalaman bermain di kompetisi Eropa.
Bahkan, ia hampir saja mendedikasikan dirinya untuk bermain bola basket, daripada sepak bola, pada usia 15 tahun. "Saya mencintai bola basket," katanya kepada majalah Argentina El Grafico, dalam sebuah wawancara di tahun 2017. "Pada usia 15 tahun, saya harus memilih dan saya memilih sepak bola, tetapi jika saya tidak berhasil, saya akan bermain bola basket. Saya lebih suka menonton pertandingan bola basket daripada pertandingan sepak bola,” ungkapnya.
Ketika Crespo bergabung dengan Inter pada tahun 2002 untuk menggantikan pemain hebat asal Brasil, Ronaldo, ia telah menjadi pencetak gol reguler untuk Parma dan Lazio selama enam tahun.
Milito telah mencetak 24 gol untuk Genoa pada musim sebelum ia bergabung dengan Inter, sementara Mauro Icardi meningkat tajam selama dua tahun di Sampdoria. Ketika mereka membeli kedua pemain asal Argentina ini, Inter tahu apa yang mereka dapatkan.
Untuk Martinez, banyak yang meragukan apakah dia akan sukses di Eropa. Bukan karena kemampuannya, yang tidak pernah dipertanyakan, namun karena keterikatannya dengan tanah kelahirannya.
Sangat sulit bagi Lautaro muda, yang saat itu berusia 16 tahun, untuk meninggalkan kota asalnya, Bahia Blanca, di sebelah barat daya Buenos Aires dan melakukan perjalanan hampir 400 mil ke ibu kota untuk bergabung dengan Racing Club.
Ada momen 'pintu geser' yang serupa di awal karier Martinez. Menurut ayahnya Mario, Lautaro bisa saja bergabung dengan Real Madrid pada tahun 2015, namun ia memutuskan untuk tetap tinggal di Argentina. Dua tahun kemudian, ia nyaris bergabung dengan Atletico Madrid, namun ia kembali bertahan di Racing karena klub meningkatkan klausul pelepasannya.
Kegagalan-kegagalan tersebut memungkinkan Inter untuk melakukan sebuah bisnis yang luar biasa. Tottenham mengajukan penawaran sebesar £60 juta dua tahun lalu, namun harga Martinez jauh lebih tinggi. Jika ia meninggalkan Inter, maka ia akan bergabung dengan tim lain yang berpotensi menjadi juara Champions League.
Namun, semakin lama dia bertahan di Inter, semakin sulit untuk pergi. Musim depan akan menjadi musim keenam Martinez berseragam biru dan hitam dan ia menjadi kapten tim pada musim ini. Ia telah menjadi bandiera, istilah yang digunakan oleh para penggemar Italia untuk menggambarkan pahlawan yang telah mengabdi untuk klub, yang akan membuat kepergiannya menjadi sangat sulit.
Gelar juara akan mengangkat Martinez lebih tinggi lagi di hati para pendukung Inter. City mungkin merupakan unggulan utama, namun untuk mewujudkan mimpi mereka, Pep Guardiola harus menghentikan the Bulls untuk menguasai jalannya pertandingan.
Editor: Aspian Nur