Namun laga ini dengan cepat berubah menjadi surga bagi para pendukung Inter, berkat gol-gol dari Edin Dezko dan Henrikh Mkhitaryan dalam selang waktu hanya 11 menang babak pertama berjalan, menit ke-8 dan ke-11.
Khusus untuk Edin Dzeko, dalam usia 37 tahun dan 54 hari, pemain asal Bosnia ini menjadi pemain tertua yang mencetak gol di babak semifinal Champions League, hanya 50 hari lebih muda dari pemain Manchester United Ryan Giggs pada tahun 2011.
"Segala sesuatu yang bisa saja terjadi untuk Milan telah terjadi," ujar mantan penjaga gawang AC Milan, Asmir Begovic. "Ini adalah sebuah bencana yang mutlak dan tidak pernah terbayangkan oleh mereka." sebutnya
Derby Milan pastinya selalu menjadi momen yang tak terlupakan, namun bentrok dua tim sekota di kompetisi Eropa adalah sesuatu yang patut dinikmati.
Hanya dua kali sebelum leg pertama semifinal Liga Champions pagi tadi Rosonerri menghadapi Nerazzurri dan tentu saja kedua tim bertekad untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.
AC Milan yang ditunjuk sebagai tuan rumah di stadion San Siro di leg pertama ini memiliki jumlah pendukung yang lebih banyak di dalam stadion. Suara bising, kembang api merah dan spanduk-spanduk besar menciptakan suasana yang mengintimidasi.
Namun tim tamu lah yang tampil dengan penuh semangat. Setelah unggul dua gol, dua peluang mereka juga membentur tiang gawang melalui Hakan Calhanoglu sementara lini pertahanan Milan berkali-kali dibiarkan terbuka.
Keputusan besar terjadi pada menit ke-31. Inter mendapat hadiah penalti karena Martinez terjatuh di dalam kotak penalti setelah adangan dari Simon Kjaer.
Namun ketika wasit Jesus Gil Manzano didesak untuk memeriksa tayangan VAR di pinggir lapangan, keputusan tersebut dibatalkan. Manzano merasa tidak ada kontak yang cukup dari Kjaer, yang menarik baju Martinez sebelum ia terjatuh. "Dia (Lautaro Martinez) benar-benar mencoba menipu wasit. Dia merasakan ada tangan di pinggangnya dan menjatuhkan diri," kata pundit BBC Radio 5 Live dan mantan pemain sayap Chelsea, Pat Nevin. "Saya senang wasit berubah pikiran." imbuhnya
"Kami memainkan babak pertama yang brilian, tetapi skornya sangat tipis untuk apa yang kami lakukan di sana. Ini laga yang sangat positif yang memberikan kami banyak kepuasan, namun kami kehilangan satu bagian lagi untuk meraih mimpi yang kami yakini sejak Agustus," kata pelatih Inter Milan Simone Inzaghi.
Inzaghi menaruh kepercayaan pada pengalaman dan hal itu terbayar saat Dzeko mencetak gol pembuka setelah delapan menit sebelum Mkhitaryan yang berusia 34 tahun, mencetak gol kedua.
Ini adalah pertama kalinya dua pemain berusia 34 tahun ke atas mencetak gol untuk sebuah tim dalam pertandingan babak sistem gugur Champions League.
Hanya satu tim dalam sejarah semifinal Liga Champions yang memenangkan leg pertama dengan dua gol atau lebih dan tidak mencapai final yaitu Barcelona, yang kehilangan keunggulan 3-0 melawan Liverpool pada 2018-19.
Namun, terlepas dari keunggulan dua gol, Inter tahu tempat mereka di final Champions League pertama sejak 2010 belum dipastikan.
Pelatih AC Milan Stefano Pioli percaya diri timnya masih bisa membalikkan keadaan di leg kedua pekan depan.
Pioli memuji ketangguhan timnya saat mereka berusaha untuk tetap berada di jalur yang tepat untuk memenangkan Piala Eropa untuk kedelapan kalinya, 16 tahun setelah kemenangan terakhir mereka pada tahun 2007.
“Kami akan mencoba tampil lebih baik di leg kedua. Saya pikir mereka lebih baik dalam hal tekel dan bola-bola kedua. Pertandingan berjalan buruk dari segi taktik dan mental,” kata Pioli kepada Amazon Prime Video.
“Kami harus menampilkan performa yang benar-benar berbeda di leg kedua. Bagi para pemain saat ini, ada kekecewaan tetapi juga kesadaran untuk membalikkan keadaan di leg kedua,” imbuhnya.
Mantan pemain bertahan Chelsea, Fikayo Tomori, menegaskan tidak semuanya telah hilang bagi Milan. "Tentu saja kami kecewa. Cara kami memulai pertandingan, kebobolan dua gol cepat seperti itu," kata Tomori kepada BT Sport. “Itu sulit tetapi ini baru pertandingan pertama. Kami tidak boleh menundukkan kepala,” sebutnya.
Kekalahan dari Inter merupakan kekalahan ketiga Milan dari tetangganya dalam satu musim, sesuatu yang belum pernah mereka alami sejak musim 1994-95.
Milan meraih kemenangan 3-2 atas Inter di Serie A pada bulan September sebelum mengalami kekalahan beruntun, 3-0 di Piala Super Italia dan 1-0 di Serie A.
Juara Italia musim lalu itu hanya memenangkan dua dari enam pertandingan domestik terakhir mereka dan berada di luar empat besar klasemen dengan empat pertandingan tersisa.
Editor: Aspian Nur