Gereja penuh dengan jemaat. Di luar, para pedagang kaki lima menjajakan patung-patung santo tersebut. “Pelindung bagi mereka yang mustahil, tersesat dan putus asa,” tulisan disamping beberapa perhiasan tersebut. “Kenakan gelang ini di tangan kanan Anda, dan pikirkan permintaan Anda dengan sungguh-sungguh,” bunyi tulisan itu lagi.
Hari Rabu adalah hari favorit untuk mengajukan permohonan kepada San Judas Tadeo, namun sayangnya seperti tidak ada pendukung Liverpool yang ikut dalam antrean itu.
Bagaimanapun juga, pembicaraan selama tiga pekan terakhir adalah mengenai kekalahan. Hal ini mengenai bagaimana Liverpool membutuhkan keajaiban di Estadio Bernabeu, markas Real Madrid, untuk dapat mengatasi ketertinggalan 5-2 dari pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champion di Anfield.
Ide untuk mencetak empat gol di kandang lawan terasa seperti sebuah tugas yang mustahil, meskipun Liverpool memiliki kenangan akan kejutan di masa lalu dalam kompetisi ini untuk membakar harapan mereka, yaitu di Liga Champions 2005 dimana mereka bangkit melawan AC Milang setelah tertinggal 0-3 untuk berbalik jadi juara via adu penalty.
Ada juga keajaiban di Anfield pada 7 Mei 2019, juga, malam ketika Liverpool mencetak empat gol melewati Lionel Messi dan Barcelona di leg kedua semifinal Liga Champions untuk merombak defisit 3-0 dari leg pertama.
Ingatlah keajaiban yang terjadi di stadion malam itu, juga cara Trent Alexander-Arnold mengelabui lini pertahanan Barcelona dengan berpura-pura berjalan menjauh dari tendangan sudut sebelum terjadinya gol yang menentukan. Liverpool melakukan hampir semua keajaiban sepak bola yang dapat mereka pikirkan.
Tapi di markas Real Madrid itu tak terlihat.
Liverpool tersingkir usai kalah 1-0 lewat gol Karim Benzema menit 78, membuat aggregate jadi 6-2, hasil yang pantas didapatkan oleh Los Blancos.
Liverpool telah menghabiskan keajaiban mereka dalam 20 tahun terakhir. Kini yang tersisa hanyalah perjuangan keras untuk masuk ke empat besar Liga Primer dan berusaha untuk lolos ke Liga Champions musim depan.
Mereka tertinggal enam poin dari Spurs, yang berada di posisi terakhir, jadi hal tersebut tidak akan mudah. Bagi Madrid, kesempatan lain untuk meraih tropi Liga Champions kembali terbuka.
Anak asuh pelatih Jurgen Klopp tidak memiliki pertandingan hingga setelah jeda internasional, namun ketika mereka kembali, mereka akan menghadapi pertandingan tandang ke Manchester City dan Chelsea, serta menjamu Arsenal. Ini merupakan rangkaian pertandingan yang akan menentukan apakah Liverpool akan lolos ke Liga Champions tahun depan.
“'Dengan sejarah yang kami miliki di kompetisi ini, kami biasanya memulai kompetisi dengan ide untuk memenangkannya, jujur saja. Kami mencapai beberapa kali final, kami tidak sering mencapai final, itu benar, tetapi kami berada di sana tiga kali dalam beberapa tahun terakhir.
Klopp mengakui timnya tidak dapat meningkatkan permainan mereka. “Kami datang kesini dengan selisih tiga gol dan membutuhkan penampilan yang istimewa dan kami tidak menunjukkan penampilan yang istimewa itu," tegas Klopp.
"Dalam beberapa momen itu adalah penampilan yang bagus tetapi Real Madrid adalah tim yang memegang kendali di sebagian besar pertandingan. Mereka memiliki peluang yang lebih baik. Ali (kiper Alisson Becker) harus melakukan dua penyelamatan sensasional untuk menjaga kami tetap dalam permainan dan itulah alasannya (kami kalah).
"Jika Anda ingin lolos, Anda harus tampil luar biasa. Jika Anda ingin memenangkan pertandingan, Anda harus tampil sangat baik, dan Madrid adalah tim yang lebih baik dan itulah mengapa tim yang tepat lolos ke babak berikutnya," ucapnya.
Terdapat akhir yang mengharukan pada malam itu, dengan Real Madrid memainkan lagu You'll Never Walk Alone setelah peluit akhir sebagai bentuk penghormatan. Hal tersebut sangat berarti bagi Klopp, yang merasa frustasi karena segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik bagi timnya. “Saya tidak marah setelah pertandingan tapi saya kecewa,” ujarnya.
Manajer Real Madrid, Carlo Ancelotti yang terus mendapatkan hasil yang lebih baik dari Klopp di Liga Champions setelah mengalahkannya di final musim lalu, merasa puas dengan penampilan timnya.
Klopp memuji Vinicius Jr di pretandingan ini. "Dia adalah pemain terbaik di dunia)," kata Ancelotti. "Dia penting karena dia memberi assist (gol Benzema) dan setiap kali dia menyentuh bola, dia berbahaya," sebutnya lagi.
Editor: Aspian Nur