Itu dimungkinan usai Inter membungkam Rossoneri pada leg kedua ajang ini di San Siro Rabu (20/4/2022) dini hari tadi dengan skor telak 0-3 setelah pada leg pertama kedua tim berimbang 0-0.
Brace Lautaro Martinez pada babak pertama menit 4 dan 40 ditambah satu gol Robin Gosen menit 82 yang diwarnai dianulirnya gol Ismael Bennacer menit 66 membuat AC Milan harus merelakan tiket ke partai final jadi milik sang rival sekota.
Kemenangan membuat Inter menunggu pemenang antara Juventus atau Fiorentina yang berlaga dini hari nanti dimana Bianconeri memimpin 1-0 dari leg pertama atas La Viola. Final dijadwalkan pada 11 Mei mendatang.
"Saya senang karena kami lolos dan tampil di final. kami selalu bekerja untuk membawa Inter ke puncak," kata Lautaro Martínez dilansir dari Reuters usai pertandingan.
"Saya selalu berjuang untuk jersey ini, saya selalu berusaha memberikan semua yang saya bisa di lapangan. Saya bermimpi menjadi penentu. Orangtua, istri dan putri saya ada di sini hari ini, brace ini untuk mereka," tegas pria asal Argentina ini.
Ada atmosfer yang penuh gairah di San Siro, dalam derby Milan pertama selama lebih dari dua tahun dengan kapasitas penonton. Lebih dari 76.000 penggemar diizinkan masuk ke stadion menyusul pelonggaran di Italia.
Menambah intensitas adalah fakta kedua tim juga terlibat dalam pertempuran ketat untuk gelar Serie A, dimana Milan unggul dua poin dari juara bertahan Inter.
Di pertandingan ini Milan tak diperkuat Zlatan Ibrahimovic yang cedera sementara pelatih Inter Simone Inzaghi memiliki skuad penuh untuk dipilih.
Sementara Stefano Pioli kecewa dengan hasil ini, terutama dianulirnya gol Bennacer. "Anda dapat melihat semua pemain Inter memprotes handball," kata Pioli dengan nada marah. "Kiper kebobolan dan tidak memprotes pandangannya dikaburkan. Golnya jelas bagus karena saat Bennacer menembak, Kalulu bergerak menjauhi garis pandang. Itu bisa mengubah pertandingan," imbuhnya.
Saat gol Bennacer terjadi, pemain Inter protes, menyebut ada handball yang dilakukan oleh Fikayo Tomori sebelum terjadinya gol. Wasit Maurizio Mariani kemudian mengecek tayangan ulang setelah berkonsultasi dengan Video Assistant Referee (VAR).
Cukup lama ia mempertimbangkan keabsahan gol tersebut sebelum menganulirnya. Bukan karena handball Tomori seperti yang disebut para pemain Inter, melainkan karena offside Pierre Kalulu.
"Kami ingin menang, tapi gagal meraihnya, karena lawan kami memang kuat. Dari performa, kami tak seharusnya kalah 0-3, tapi Inter memang mencetak gol di momen yang tepat," sebut Pioli. "Mereka mencetak gol cepat, kami punya kesempatan untuk bangkit, seandainya skor menjadi 1-2 pasti laga akan berbeda dan memberi kami momentum, jadi (dianulirnya gol) itu adalah momen yang sulit," ungkapnya.
Editor: Aspian Nur