Tak pelak, potensi All English Final pada kompetisi kasta tertinggi antarklub di Eropa ini terbuka lebar, mengingat Chelsea dan City akan jadi tuan rumah pada leg kedua dengan keuntungan hasil laga tandang yang mereka dapatkan. Kalau terwujud, bakal jadi bentrok tim Premier League Inggris kedua setelah musim 2018/2019 atau dua tahun silam saat Liverpool bersua Tottenham Hotspur pada partai puncak di Estadion Wanda Metropolitano, Spanyol, dimana saat itu Liverpool jadi juara dengan kemenangan 2-0 dari Spurs.
Pada pertandingan di Paris, tuan rumah sejatinya lebih dulu unggul lewat sundulan Marquinhos menit 15 dan dominan sepanjang babak pertama. Namun performa Les Parisiens turun dibabak kedua yang membuat City berhasil menyamakan skor 1-1 lewat tendangan jarak jauh Kevin De Bruyne menit 64 dan free kick Riyad Mahrez tujuh menit berselang.
PSG Bahkan harus bermain 10 orang di sisa 15 menit usai Iddrissa Gueye dikartumerah karena tekel berbahanya kepada gelandang City Ilkai Guendongan.
Tak pelak kekalahan 1-2 di leg pertama ini membuat PSG dibayangi kegagalan berlaga di final padahal tahun lalu mereka finalis namun kalah di partai puncak 0-1 oleh Bayern Munchen, tim yang disingkirkan PSG di perempatfinal. Pada leg kedua pekan depan, PSG harus menang dengan selisih dua gol untuk meraih tiket ke laga puncak, sementara City cuma butuh hasil imbang.
Berhasil mengalahkan PSG membuat City merusak rekor tim asuhan Mauricio Pochettino yang telah bertahan selama dua dekade. Untuk pertama kalinya semenjak Maret 2001 PSG kalah setelah memimpin di babak pertama.
Bagi City, hasil ini memperpanjang catatan gemilang mereka dalam laga tandang yang sudah merangkai 18 kemenangan away tanpa putus di seluruh kompetisi, mengakumulasi total 46 gol dan hanya kebobolan sembilan kali.
Pochettino menilai dua gol City tercipta karena kesalahan timnya, namun pria Argentina itu tetap mengakui City tampil lebih baik.
“Ada dua babak yang berbeda. Kami melakukannya dengan baik di babak pertama tetapi sulit untuk menyingkirkan tim seperti Man City,” kata Pochettino dilansir dari dailymail.
Sementara manajer City Josep Guardiola mengakui laga babak kedua jadi penentu kemenangan timnya. “Kami memanfaatkan 15 menit waktu istirahat untuk memulihkan kondisi setelah tertinggal dibabak pertama. Kami mengubah cara menekan lawan di babak kedua dan itu tak mudah kami dapatkan. Saya sangat puas dengan performa tim," ujar Guardiola. “Kami mencetak dua gol tandang yang sangat penting tapi kami masih harus melakukan tugas berat enam hari lagi," imbuhnya.
City kini menyamai rekor langka yang dibuat wakil Inggris, mengukir catatan enam kemenangan beruntun di Liga Champions musim ini. Klub dari Kota Manchester itu pun jadi tim pertama setelah Leeds United yang melakukannya di European Cup musim 1969/1970 atau sekitar 51 tahun lalu.
Editor: Aspian Nur