Milan tampil dominan sejak menit pertama. Il Diavolo Rosso mampu menguasai bola sebanyak 65 persen ketika laga memasuki menit ke-15. Hauge mencetak gol penentu menit ke-23 setelah mengolah bola meliuk-liuk menggocek lawan dari sisi kiri, sebelum masuk ke kotak penalti dan menembak bola ke sudut kanan gawang Praha. Gol itu jadi satu-satunya yang tercipta di laga ini.
Tuan rumah harus bermain dengan 10 orang menit ke-77 usai Dominik Pleachy dikartu merah wasit lantaran menekel Leao dari belakang.
Hasil ini membuat Milan finish di posisi pertama Grup H dengan 13 Poin dan dipastikan maju ke babak 32 besar. Skuad asuhan Stefano Pioli itu menggusur Lille yang di laga lainnya tumbang 2-3 dari Celtic.
Hauge sendiri memperlihatkan kilaunya di Negeri Spaghetti saat usianya baru menginjak 21 tahun. Sebagaimana kisah seorang pemain muda yang dipinang klub besar, Hauge pun tidak langsung menjadi pilihan utama namun dalam beberapa kali kesempatan yang diberikan, Hauge terlihat amat meyakinkan. Sudah tiga gol yang dibuatnya dalam sembilan penampilan, itu pun kebanyakan dimulai dari bangku cadangan.
Hauge memang bukan pemain sayap dengan atribut biasa. Bermain di sayap kiri dengan kaki dominan kanan, ia dapat berperan sebagai inside forward yang kerap menusuk ke area half-space maupun kotak penalti.
Bagi Hauge, tahun ini teramat spesial baginya jika menghitung pemanggilannya ke tim nasional senior Norwegia. Kini, publik sepakbola Negeri 1000 Terowongan sudah mengantisipasi kombinasinya dengan Erling Braut Haaland di lini depan. Kecepatan, dribel, dan visi bermain yang dimiliki Hauge akan menjadi makanan empuk bagi ketajaman Haaland.
Hingga kini, keputusan Hauge untuk bergabung dengan Milan terbukti tepat. Pasalnya, Milan yang sekarang memang mengandalkan pemain-pemain muda sebagai tulang punggung tim.
Kedatangan Hauge melengkapi poros talenta besar yang dimiliki I Rossoneri di semua lini. Mulai dari Gianluigi Donnarumma, Matteo Gabbia, Theo Hernandez, Ismael Bennacer, Kessie, Sandro Tonali, Rafael Leao, Davide Calabria, Lorenzo Colombo, Daniel Maldini, Pierre Kalulu, Diogo Dalot, sampai Brahim Diaz.
Pelatih Milan Stefano Pioli memberikan komentarnya usai laga. Secara khusus Pioli memberikan pujian kepada Hauge. “Pada saat kami bertemu Hauge sebagai lawan, dia sudah membuktikan apa yang bisa dia lakukan, jadi kami berharap dia akan melanjutkan performa itu bersama kami,” jelas Pioli.
Dilansir laman Opta, Hauge merupakan pemain kelahiran 1999 di Liga Italia yang mampu mencetak minimal empat gol di seluruh kompetisi. “Dia belum lengkap, jadi bisa lebih berkembang lagi, dan kami sangat senang dengan penampilannya. Saya pikir keterampilan terbaiknya adalah pada saat berhadapan dengan lawan satu lawan satu,” sambungnya.
“Dia lebih cepat menguasai bola daripada melepaskannya, tapi saya pikir dia perlu bergantian dan lebih baik dalam berlari melewati pemain bertahan lawan untuk mendapatkan bola. Dia tidak selalu bisa begitu saja melawan pemain lawan,” papar Pioli.
Kemenangan atas Sparta semakin menambah raihan positif yang didapatkan Milan. Pasalnya sejak Maret 2020, Milan hanya mengalami satu kali kekalahan. Hal tersebut terjadi ketika Milan dibantai 0-3 oleh OSC Lille pada matchday ketiga Grup H Liga Eropa 2020-2021. “Ketika saya memulai musim, saya memiliki keyakinan, karena ini adalah tim yang berkualitas, tim yang bersatu. Aka tetapi jelas tidak terpikirkan bahwa kami akan mendapatkan hasil ini,” sebut Pioli. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini dirangkum korankaltim.com dari berbagai sumber hari Jumat 11 Desember 2020.