Beberapa jam setelah berada di rumah sakit, Toktas menghubungi petugas medis di sana bahwa putranya mengalami masalah pernapasan dan meski pun bocah itu segera dipindahkan ke Unit Perawatan Intensif (ICU), nyawanya tidak bisa diselamatkan.
Tapi, beberapa pekan kemudian, Toktas menyerahkan diri kepada polisi dan mengakui bahwa putranya meninggal dunia bukan karena sakit melainkan karena dibunuh oleh dia sendiri. Yang lebih mengejutkan lagi, alasan Toktas membunuh darah dagingnya sendiri sangat sepele, hanya karena dia tidak menyukai bocah itu.
“Saya menutup wajah anak saya dengan bantal saat dia tertidur dengan mulut terbuka dan saya menahannya selama 15 menit tanpa berhenti sama sekali,” kata Toktas dalam pengakuannya di hadapan polisi seperti dikutip dari topskor.com.
“Saya tidak pernah menginginkan dia sejak dia lahir. Saya tidak tahu apa yang membuat saya tidak menginginkan dia. Itu satu-satunya alasan saya membunuh dia, karena saya tidak menginginkan dia. Saya tidak punya masalah mental,” ungkapnya.
Saat Toktas telah ditahan dan dia akan dihadapkan ke pengadilan dengan dakwaan melakukan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup. (*)