Kemudian, ada momen lainnya yang membuat bingung para pemain serta pelatih Chile maupun Kamerun. Yaitu, saat Eduardo Vargas mencetak gol di menit 82. Pelatih Chile, Juan Antonio Pizzi, awalnya mengira gol tersebut akan dianulir. Sebab, dalam prosesnya, Alexis Sanchez terlihat terjebak offside.
Namun, VAR berkata lain. Sanchez dinyatakan tidak offside dan gol Vargas sah. “Sistem seperti ini butuh waktu. Jika saya benar, seharusnya diuji coba terlebih dulu. Jadi, sulit sekali menggunakan teknologi lain di dunia sepakbola,” kata Pizzi seperti dilansir Soccerway.
“Pada akhir babak pertama, seharusnya kami unggul 1-0. Tapi, 20 menit kemudian kami masih imbang. Pemain kami dibuat kecewa dengan keputusan dari VAR. Benar, teknologi itu membuat kami stres. Kami masih menunggu dan melihat bagaimana teknologi ini dikembangkan,” lanjut dia.
Juru taktik Kamerun, Hugo Broos, merasakan hal yang sama dengan Pizzi. Pada dasarnya, menurut Broos, VAR bisa sangat berguna. Contohnya adalah ketika gol Vidal di babak pertama dianulir. Namun, VAR bisa saja mengganggu jalannya laga andai digunakan terlalu sering.
“Ada dua kejadian yang harus diteliti ulang lewat VAR dalam pertandingan tadi. Itu membuktikan seberapa penting teknologi ini. Tapi, jika penelitian lewat VAR terlalu sering, jalannya pertandingan bisa membuat pemain kesal, karena harus terhenti sejenak,” ujar Broos. (vnc)