Kepala DLH PPU, Kuncoro, menjelaskan pihaknya memiliki 16 unit truk sampah. Namun, saat ini hanya 12 unit yang dioperasikan, sementara empat unit lainnya disiagakan untuk menyesuaikan kebutuhan operasional dan anggaran BBM.
“Armada sampah kami itu ada 16 unit. Nah, saat ini kami menstandbykan 4 unit. Karena kondisi BBM yang luar biasa naiknya, sekitar 80 persen lebih,” ujar Kuncoro, Rabu (3/5/2026).
Menurut dia, lonjakan harga BBM membuat kebutuhan anggaran operasional meningkat signifikan. DLH memperkirakan anggaran pembelian BBM yang tersedia saat ini berpotensi habis pada Agustus mendatang apabila tidak dilakukan penyesuaian.
“Kami hitung-hitung itu kemungkinan di Agustus anggaran untuk pembelian BBM itu sudah habis. Sebab itu kami akan melakukan pergeseran di dalam untuk memenuhi itu,” katanya.
Meski demikian, Kuncoro menegaskan langkah tersebut bukan merupakan pengurangan armada, melainkan penyesuaian akibat kenaikan harga BBM.
Ia menyebut harga Dexlite yang digunakan armada DLH mengalami kenaikan dari sekitar Rp14.000 per liter menjadi Rp26.500 per liter. “Bukan pengurangan armada, karena BBM naik,” jelasnya.
Meski biaya operasional meningkat, Kuncoro memastikan produktivitas armada pengangkut sampah tidak terganggu. DLH PPU menerapkan target angkut bagi setiap unit yang beroperasi untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat tetap optimal.
“Kalau produktivitasnya tidak terganggu. Kami mengambil langkah-langkah strategis. Jadi setiap unit itu kami targetkan 3 ton bersih. Artinya setiap hari kita punya sekitar 12 unit yang operasi. Jadi setiap hari itu minimal kurang lebih 40 ton sampah yang dibuang ke TPA,” pungkasnya.
Editor: Erwin