Bantuan tersebut merupakan bagian dari Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) yang ditujukan untuk mendukung rehabilitasi mangrove sekaligus penguatan ekonomi masyarakat pesisir berbasis lingkungan.
Penandatanganan kontrak swakelola tipe IV bantuan pemerintah kepada masyarakat dilakukan di kawasan ekowisata mangrove Tanjung Berseri dan dihadiri sejumlah pejabat pusat maupun daerah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH) Kementerian Kehutanan Muhammad Zainal Arifin mengatakan, bantuan hibah tersebut digunakan untuk pengadaan sarana penunjang wisata mangrove.
“Program ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi mangrove sekaligus penguatan ekonomi masyarakat pesisir berbasis lingkungan,” kata Zainal kepada Korankaltim.com.
Pengembangan kawasan mangrove tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga diarahkan agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata.
Provincial Project Implementation Unit Manager M4CR Kalimantan Timur Asman Aziz menambahkan, Program M4CR merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dengan World Bank yang sebelumnya berada di bawah Badan Restorasi Gambut dan Mangrove dan kini dilaksanakan oleh Ditjen PDASRH Kementerian Kehutanan.
Diharapkan program tersebut berjalan berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun pembangunan fisik semata.
“Kami berharap program ini benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Asman.
Sementara Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setkab PPU Nicko Herlambang mengapresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan kawasan mangrove di daerah tersebut.
Bantuan hibah menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperkuat sektor wisata berbasis lingkungan sekaligus menjaga kelestarian kawasan pesisir.
Nicko mengingatkan agar pengelolaan bantuan dilakukan secara transparan dan tepat sasaran sehingga tidak hanya menjadi proyek jangka pendek tanpa dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.
“Kawasan mangrove memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam berkelanjutan. Tetapi pengelolaan, promosi, dan keterlibatan masyarakat harus terus diperkuat agar kawasan ini benar-benar berkembang,” ucap Nicko.
Editor : Aspian Nur