Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau akan berlangsung bertahap sejak April hingga Oktober, dengan puncaknya pada Agustus 2026.
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, mengatakan pihaknya telah melakukan survei ke Embung Lawe-Lawe di Kecamatan Penajam sebagai langkah antisipasi krisis air baku.
“Kita baru saja melakukan survei ke Embung Lawe-Lawe yang akan dijadikan cadangan air baku untuk Kabupaten PPU, khususnya di wilayah yang terdampak seperti Penajam dan Lawe-Lawe,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, rencana yang disiapkan adalah membendung aliran air dari Sungai Lawe-Lawe yang selama ini terbuang agar dapat dimanfaatkan sebagai cadangan air.
“Rencananya kita akan membendung air dari Sungai Lawe-Lawe untuk dialirkan ke embung. Ini sebagai upaya mengoptimalkan sumber air yang ada,” katanya.
Proyek tersebut akan dikerjakan melalui kolaborasi dengan instansi terkait, yakni Dinas Pekerjaan Umum (PU) PPU dan Balai Wilayah Sungai (BWS). Saat ini, proses survei masih berlangsung dan ditargetkan segera rampung pada tahap perencanaan teknis.
“Survei sudah berjalan, dan kita harapkan Detail Engineering Design (DED) bisa selesai minggu ini,” jelasnya.
Untuk mendukung realisasi proyek, Pemkab PPU juga berencana mengajukan dukungan anggaran ke pemerintah pusat. Bupati PPU dijadwalkan berangkat ke Jakarta guna berkoordinasi dengan Kementerian PU dan BWS.
“Rencananya Bupati akan ke Kementerian PU untuk meminta dukungan. Kita dari daerah mengusulkan anggaran sekitar Rp30 miliar, namun besaran yang disetujui masih belum diketahui,” ungkap Abdul Rasyid.
Ia berharap proyek tersebut dapat segera terealisasi sebelum puncak musim kemarau tiba, sehingga ketersediaan air bersih bagi masyarakat tetap terjaga.
“Kita berharap upaya ini bisa segera terwujud sebelum puncak kemarau, agar kebutuhan air masyarakat tidak terganggu,” pungkasnya.
Editor: Erwin