Kepala Dispusip PPU M Yusuf Basra menjelaskan, keberadaan buku Braille merupakan langkah awal menghadirkan layanan perpustakaan yang lebih inklusif bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Ini pertama kalinya kami memiliki buku Braille. Kalau pun ada anggaran, kemungkinan kami tidak membeli buku seperti itu karena kemungkinan tunanetra datang membaca belum tentu ada. Namun fasilitas itu tetap harus ada,” kata Yusuf Jumat (6/3/2026).
Selain menyediakan koleksi buku Braille, Dispusip PPU juga menilai fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas masih perlu ditingkatkan. Salah satunya adalah akses bagi pengguna kursi roda agar lebih mudah memasuki gedung perpustakaan.
“Untuk fasilitas pendukung disabilitas seharusnya kita punya keberpihakan. Misalnya tunanetra sudah ada buku ini, tetapi untuk disabilitas lain seperti akses pintu masuk bagi kereta dorong juga seharusnya tersedia,” jelas Yusuf.
Pengembangan fasilitas ramah disabilitas akan terus diupayakan meskipun jumlah pengunjung dari kalangan disabilitas masih relatif sedikit.
Tantangan terbesar dalam meningkatkan literasi masyarakat bukan pada ketersediaan bahan bacaan, melainkan motivasi membaca. “Sebenarnya bahan bacaan tidak kekurangan. Perpustakaan sudah ada di desa dan kelurahan, tinggal kesadaran masyarakat untuk membaca yang masih perlu ditingkatkan,”katanya.
Editor : Aspian Nur