Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat, intensitas serangan hama dan penyakit kini telah melampaui ambang batas normal dan berdampak langsung terhadap penurunan hasil panen padi.
Terdapat lima OPT utama yang menyerang tanaman pangan di wilayah PPU, yakni penggerek batang, wereng, tikus, penyakit blas, dan hawar daun bakteri.
“Untuk tahun 2026 ini, tingkat serangan sudah berada di atas ambang batas. Seharusnya 5,9, sekarang menjadi 10,9 atau naik sekitar 100 persen. Yang paling dominan itu blas dan hawar daun,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, Selasa (3/2/2026).
Pada musim tanam sebelumnya hama penggerek batang menjadi penyebab utama kerusakan, namun kini pola serangan mulai bergeser. Akibatnya, kerugian hasil panen petani tergolong tinggi.
“Kerugian akibat hama dan penyakit ini sudah cukup besar. Dari yang seharusnya bisa panen enam ton per hektare, sekarang rata-rata hanya sekitar tiga ton,” jelasnya.
Gunawan menegaskan, penurunan produksi tidak semata-mata disebabkan oleh OPT. Kondisi tanah pertanian di PPU yang dinilai sudah kritis turut memperparah hasil panen.
“Ini bukan hanya karena OPT, kondisi tanah kita juga sudah kritis. Ibaratnya tanah ini sakit, jadi produksi ikut turun,” katanya.
Namun demikian, ia menyebut hasil berbeda terlihat pada lahan yang menerapkan sistem pertanian organik.
“Di titik-titik yang sudah menerapkan pertanian organik, produksinya masih bisa mencapai enam ton per hektare,” ungkap Gunawan.
Terkait solusi, Distan PPU saat ini masih fokus pada langkah jangka pendek berupa sosialisasi dan pengendalian menggunakan pestisida, meski diakui belum ideal untuk keberlanjutan.
“Sebagian besar petani masih menggunakan pestisida, jadi pengendalian yang dilakukan masih jangka pendek. Untuk jangka panjang, seperti penanaman refugia dan pengendalian hayati, sudah mulai ada, tapi jumlah petaninya masih sedikit,” ujarnya.
Sebagai bentuk intervensi, Distan PPU juga menyalurkan bantuan melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama dan penyakit tanaman. Bantuan tersebut bersifat stimulan dan disesuaikan dengan laporan serangan di lapangan.
“Petani melapor ke UPT, lalu dirangkum dan dilaporkan ke dinas, berapa luas serangan hektarnya. Dari situ kita lakukan gerakan pengendalian dan racunnya dari dinas, tapi sifatnya hanya stimulan,” kata Gunawan.
Ia mencontohkan, untuk serangan seluas 100 hektare, bantuan racun yang diberikan hanya sekitar 40 kilogram dan tidak dapat mencakup seluruh kebutuhan petani, terutama untuk hama tikus.
Ke depan, Distan PPU berharap petani dapat lebih mandiri dalam pengendalian hama dan penyakit dengan menerapkan pengelolaan budidaya yang lebih baik dan serentak.
“Harapan kita, petani bisa mulai mandiri dengan pengendalian jangka panjang, seperti pengolahan tanah yang benar-benar optimal agar hama dan penyakit bisa berkurang, meski tidak hilang sepenuhnya,” pungkasnya.
Editor: Erwin