Dalam kegiatan tersebut, ia menilai satu abad perjalanan NU merupakan bukti konsistensi organisasi keagamaan ini dalam menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, merawat persatuan bangsa, serta menjadi penyejuk di tengah keberagaman Indonesia.
“NU telah membuktikan selama seratus tahun hadir sebagai penyangga moral bangsa,” kata Mudyat.
Lanjutnya, keberadaan IKN di wilayah PPU menjadikan nilai moderasi beragama, toleransi, dan kebangsaan yang dijaga NU sangat relevan sebagai fondasi kehidupan masyarakat Nusantara ke depan.
“Pembangunan IKN tidak cukup hanya dengan infrastruktur. Harus ada penguatan nilai, karakter, dan harmoni sosial. Di sinilah peran ulama, kiai, dan warga NU sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji menyebut NU sebagai salah satu pilar utama bangsa yang berperan strategis dalam mendukung pembangunan IKN sekaligus menjaga persatuan dan moderasi beragama di Kalimantan Timur.
“NU berdiri sejak 1926 dan hingga kini tetap utuh, tidak terpecah belah, serta konsisten menjaga keutuhan bangsa. Ini adalah kekuatan besar,” tegasnya.
Ditambahkannya, para pendiri NU seperti KH Hasyim Asy’ari tidak mewariskan kekayaan materi, melainkan nilai keikhlasan, keberanian, kebijaksanaan, dan kecintaan terhadap tanah air yang sangat relevan dalam menjawab tantangan pembangunan bangsa, termasuk pembangunan IKN.
Editor: Erwin