Penurunan debit air tercatat mencapai sekitar 20 persen, terutama di wilayah yang bergantung pada embung atau bendungan air tadah hujan.
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa dampak paling terasa terjadi di daerah Sotek, Babulu, dan sejumlah wilayah lain yang sumber air bakunya mengandalkan embung.
“Dua minggu terakhir ini kita mengalami cuaca yang sangat ekstrem dan cukup panas. Hampir semua kondisi air baku kita mengalami penurunan yang cukup signifikan, sekitar 20 persen, terutama daerah yang mengandalkan embung seperti Sotek dan Babulu,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Meski penurunannya cukup drastis, dalam satu hingga dua pekan ke depan pasokan air masih berada pada kisaran 70 hingga 80 persen.
Namun, kondisi kualitas air baku juga ikut terdampak, ditandai dengan perubahan warna air menjadi coklat.
“Kondisi air kita saat ini memang menjadi coklat. Walaupun demikian, air masih bisa dimanfaatkan karena kita menggunakan bahan kimia pengolahan yang sudah sesuai prosedur dari Kementerian Kesehatan,” jelasnya.
Abdul Rasyid mengungkapkan, jika dalam satu hingga dua minggu ke depan tidak terjadi hujan, Perumda Air Minum Danum Taka akan mengambil langkah pengendalian distribusi air secara bertahap. Prioritas penghentian sementara (off) distribusi akan dilakukan di wilayah Sotek, disusul Kecamatan Babulu dan Kecamatan Waru.
“Untuk daerah lain seperti Sepaku dan Lawe-Lawe, kita turunkan distribusinya hingga 50 persen,” katanya.
Menurutnya, wilayah Sotek menjadi prioritas penghentian karena Bendungan Sotek sepenuhnya mengandalkan air hujan sebagai sumber utama.
“Kenapa Sotek kita off-kan, karena bendungan tersebut hanya mengandalkan tadah hujan,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka menengah, Perumda Danum Taka bersama Dinas PUPR PPU dan Balai Wilayah Sungai (BWS) merencanakan perluasan serta pendalaman Bendungan Sotek.
“Rencana kita bersama PUPR PPU dan BWS adalah melakukan perluasan dan pendalaman bendungan, dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp1,5 miliar,” pungkasnya.
Editor: Erwin