Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbudpar PPU H Rusli menjelaskan, mereka bersama Bupati PPU Mudyat Noor aktif melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk memperoleh dukungan pendanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kegiatan yang sedang kami gencarkan sekarang adalah menjalin komunikasi langsung dengan Kementerian Pariwisata dan kementerian terkait lainnya. Kami bersama Bupati PPU mencari pendanaan di luar APBD melalui APBN, dengan SKPD pengampunya adalah Disbudpar,” kata Rusli, Selasa (6/1/2026).
Dialog dengan kementerian memberikan harapan baru bagi pengembangan pariwisata, khususnya bagi pelaku seni dan budaya di PPU.
“Kami sudah berdialog dengan kementerian, Alhamdulillah banyak terobosan-terobosan. Mudah-mudahan bisa langsung direspons oleh menteri. Beliau menjanjikan sesuatu yang membuat angin segar bagi kami, terutama pelaku-pelaku seni,” sebut Rusli lagi.
Satu dari rencana besar yang diusulkan adalah pengembangan jembatan mangrove yang saat ini telah direnovasi. Jembatan tersebut direncanakan akan diperpanjang sekitar 70 meter ke arah laut dan dibentuk menyerupai huruf T di kawasan pesisir.
“Jembatan mangrove yang sudah kita renovasi ingin kita panjangkan lagi ke laut kurang lebih 70 meter, membentuk T di pesisir sehingga berhadapan langsung dengan laut. Di ujungnya akan dibangun jembatan lagi yang menyambung dengan jembatan yang sudah ada, sehingga view-nya langsung ke laut,” jelasnya.
Selain itu, Disbudpar PPU juga merencanakan pengembangan fasilitas kuliner di sisi kiri dan kanan jembatan sebagai penunjang kenyamanan wisatawan.
Namun diakui Rusli masih ada kendala yang dihadapi, terutama terkait keterbatasan jaringan telekomunikasi di kawasan tersebut.
“Permasalahan kami sekarang disana masih blank spot, jaringan juga sangat terbatas. Kami masih berkoordinasi dengan Telkom dan Indosat,” ucap Rusli lagi.
Opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan Starlink, namun biaya pemasangan dan operasional masih menjadi bahan kajian.
“Rencana saya Starlink, tapi biayanya cukup besar karena mereka juga harus menghitung keuntungan. Mendirikan menara itu biayanya tidak kecil, lalu konsumennya siapa. Satu-satunya mungkin Starlink, tapi pembiayaannya masih dikaji,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur