Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber, terutama di wilayah kecamatan.
Kepala DLH PPU, Safwana, mengatakan bahwa rencana pembangunan TPS3R di dua kecamatan tersebut sebenarnya telah lama menjadi perhatian pemerintah daerah.
Namun, teknologi yang digunakan TPS3R masih tergolong sederhana jika dibandingkan dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang saat ini menjadi fokus utama pembangunan.
“Yang kita dorong itu Waru dan Babulu untuk didirikan TPS3R. Karena memang TPS3R sudah diolah, tapi teknologinya sederhana dan tidak sebanding dengan TPST,” ujar Safwana, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, pada tahun anggaran sebelumnya, DLH PPU lebih memprioritaskan pembangunan dan penguatan TPST sebagai upaya peningkatan pengolahan sampah skala besar. Kondisi tersebut membuat rencana pembangunan TPS3R belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
“Kemarin kita fokus di TPST,” jelasnya.
Selain faktor prioritas program, Safwana mengungkapkan kebijakan efisiensi anggaran daerah turut mempengaruhi tertundanya usulan pembangunan TPS3R. Oleh karena itu, DLH PPU berencana mengusulkan pembangunan fasilitas tersebut pada tahun 2027 mendatang.
“Karena kondisi anggaran yang sedang mengalami efisiensi, rencana kita akan usulkan kembali di tahun 2027,” katanya.
Menurut Safwana, pembangunan TPS3R membutuhkan anggaran yang cukup besar, yakni berkisar antara Rp15 miliar hingga Rp20 miliar. Besarnya anggaran tersebut menjadi pertimbangan utama pemerintah daerah dalam menentukan waktu pengusulan program.
“Anggarannya Rp15 sampai Rp20 miliar, tidak sedikit,” ujarnya.
Sambil menunggu realisasi pembangunan TPS3R, DLH PPU saat ini tetap melakukan berbagai upaya untuk menekan volume sampah, salah satunya melalui pemilahan sampah sejak dari sumber atau hulu, yakni rumah tangga. Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi beban pengangkutan dan pengolahan sampah di tingkat akhir.
Namun demikian, upaya pemilahan sampah dari rumah ke rumah masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan armada pengangkut dan tenaga kebersihan.
Safwana menyebutkan, untuk melakukan pengambilan sampah secara langsung dari masyarakat diperlukan penambahan personel serta kendaraan operasional, seperti motor roda tiga. “Sambil kita pilah sampah dari hulunya, karena armada kami masih kurang. Artinya kalau kita ambil dari rumah ke rumah harus ada tenaga kami nambah kemudian motor roda tiga kami tambah, itu yang masih kami usahakan setiap tahun,” pungkasnya.
Editor: Erwin