Meski informasi tersebut masih bersumber dari pemberitaan media karena surat resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) belum diterima namun pihaknya tetap akan menyampaikan hal itu teurtama kepada petani di daerah yang kerap terdampak banjir.
“Informasi dari BMKG terkait cuaca ekstrem diperkirakan tanggal 15–22 Desember, namun surat resminya belum ada. Hanya update dari media yang kami teruskan kepada rekan-rekan petani, terutama di daerah rawan seperti Sumber Sari dan Gunung Makmur,” kata Gunawan kepada Korankaltim.com Kamis (11/12/2025).
Surat imbauan akan segera dikirimkan agar para petani lebih waspada. Hingga Desember ini capaian luas tanam baru mencapai 5.600 hektare dari target 7.000 hektare. “Tingkat tanam di PPU baru 5.600 hektare, harapannya bisa terpenuhi 7.000 hektare,” ujarnya.
Dinas Pertanian hanya dapat memberikan imbauan dan mengajak petani melakukan langkah-langkah penanganan sederhana dalam menghadapi potensi dampak perubahan iklim. “Penanganannya mestinya dilakukan bersama, misalnya gotong royong membersihkan saluran irigasi dan sebagainya,” tambahnya.
Kalau banjir terjadi risiko gagal panen sangat mungkin terjadi. “Kalau terendam banjir pasti gagal panen, tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi,” harap Gunawan.
Saat ini sudah memasuki masa tanam I (MT I) 2025–2026 dan diharapkan realisasinya berjalan lancar. Prediksi panen diperkirakan pada Februari 2026. Namun informasi yang diterima produksi tahun ini sedikit menurun. “Tahun 2024 proditas 3,52 dan tahun 2025 menjadi 3,51. Mungkin karena faktor cuaca ekstrem,” jelasnya.
Luas tanam sebenarnya stabil, yakni 13.600 hektare dalam dua musim tanam namun meski harga gabah sedang baik, produktivitas tetap turun tipis. “Padahal harga bagus, tapi yang jadi masalah proditas kita turun sedikit,” ungkap Gunawan.
Kondisi ini diharapkan bisa diperbaiki pada musim tanam berikutnya. “Mudah-mudahan bisa kita perbaiki di MT yang akan datang,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur