Ia menilai peristiwa tersebut menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret dalam menangani persoalan sistem drainase di kawasan rumah sakit.
“Dengan kejadian banjir di Rumah Sakit Ratu Aji Putri Botung, besar harapan kami agar ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk membuat satu drainase atau saluran air yang tembus langsung ke laut,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Ia menjelaskan, kondisi topografi sekitar RSUD RAPB yang cenderung rendah membuat kawasan tersebut rawan tergenang air saat curah hujan tinggi.
Karena itu, pembangunan saluran drainase yang terhubung langsung ke laut dinilai sangat penting untuk memperlancar aliran air dan mencegah terjadinya hal serupa di area rumah sakit.
“Kalau drainasenya cukup luas dan sistemnya dibuat dengan perencanaan matang, tentu bisa mengantisipasi banjir karena airnya tersalurkan langsung ke laut. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga menyangkut pelayanan dan keselamatan pasien maupun tenaga medis di rumah sakit,” jelasnya.
Politikus Partai Golkar itu menambahkan, banjir yang terjadi di lingkungan rumah sakit bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan kesiapan infrastruktur penunjang layanan kesehatan di daerah.
Menurutnya, rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan publik seharusnya memiliki sistem pendukung yang kuat, termasuk dalam hal pengelolaan air hujan dan saluran pembuangan.
“Namanya bencana alam memang tidak bisa kita hindari, tapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Dari pihak rumah sakit maupun pemerintah daerah perlu lebih fokus lagi dalam menangani dan mengantisipasi agar tidak terjadi banjir lagi. Sehingga tidak ada lagi cerminan yang kurang baik terhadap rumah sakit,” tutupnya.
Editor: Erwin