Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU Andi Israwati Latief menyebut festival ini merupakan wujud tekad besar masyarakat Paser dalam menjaga keberagaman dalam bingkai persatuan dan toleransi tinggi.
“Festival Budaya Belian Adat Paser Nondoi tahun 2025 adalah sebuah tekad besar dan menggambarkan kearifan lokal suku Paser yang memandang keberagaman dalam ikatan persatuan dengan toleransi tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Andi kepada Korankaltim.com disela kegiatan.
Festival tahun ini juga menjadi momentum penting di awal kepemimpinan Bupati PPU Mudyat Noor sebagai pimpinan daerah. “Semoga festival Nondoi mampu memberikan gambaran mengenai kebudayaan Paser di Kabupaten PPU dan keberagaman suku dan budaya di wilayah ini,” harapnya.
Andi menyinggung pentingnya pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan yakni bahasa, manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, permainan rakyat dan olahraga tradisional.
“Selain fokus pada sepuluh objek tersebut, terdapat pula upaya yang harus digerakkan, yakni perlindungan dan pelestarian cagar budaya, kekayaan intelektual komunal, serta warisan budaya tak benda,” jelasnya.
Namun posisi penganggaran bidang kebudayaan di Kabupaten PPU masih belum maksimal sangat disayangkan Andi. “Saat ini penganggaran pemajuan kebudayaan di PPU masih sebatas kulit luarnya saja, belum menyentuh secara mendalam seperti pengembangan SDM pengelolaan data kebudayaan yang terintegrasi, dokumentasi dan pencatatan sejarah, maupun pembangunan taman budaya dan museum daerah,” ungkapnya.
Efisiensi anggaran tahun 2025 juga berdampak pada terbatasnya kegiatan kebudayaan. “Festival Nondoi menjadi satu-satunya kegiatan besar di bidang kebudayaan tahun ini. Program lain seperti fasilitator SDM penulisan karya budaya dan pemilihan duta budaya terkena imbas efisiensi anggaran,” sebut Andi.
Selama sembilan tahun memimpin Disbudpar PPU, Andi menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut mengembangkan kebudayaan daerah.
“Kami bersama seluruh staf Disbudpar dan mitra kebudayaan seperti Lembaga Adat Paser, paguyuban suku, seniman, dan budayawan telah berupaya memberikan warna bagi kebudayaan daerah, meski dengan keterbatasan anggaran,” jelasnya.
Perlu diketahui, anggaran kegiatan Nondoi ini sebesar Rp400 Juta, walaupun menurun dibanding tahun 2024 lalu yakni Rp700 Juta, namun kegiatan tetap berjalan dengan meriah.
Sementara Mudyat Noor sebagai kepala daerah mengajak seluruh masyarakat untuk terus melestarikan kebudayaan lokal sebagai identitas bangsa. “Melalui Festival ini saya mengajak semua untuk bersama-sama melestarikan dan merawat kebudayaan lokal sebagai bagian dari jati diri bangsa. Budaya Paser jangan dianggap sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai nilai luhur yang relevan untuk membangun masa depan, terutama di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara,” ujar Mudyat.
Festival tahun ini mengusung tema “Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai” yang berarti “Satu Ikatan Sebangsa dan Satu Tanah Air.” Menurut Mudyat, tema tersebut mengandung makna penting tentang persatuan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang status sosial maupun golongan.
“Festival ini bukan hanya pertunjukan budaya, tetapi juga bentuk penghormatan kepada warisan leluhur dan nilai-nilai yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur