Angka tersebut menunjukkan adanya tantangan tersendiri dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bagi pembangunan IKN. Menanggapi hal tersebut, Asisten I Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU), Nicko Herlambang, menekankan pentingnya pemahaman utuh mengenai kondisi geologi Kalimantan.
“Perlu diklarifikasi bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di IKN, melainkan secara keseluruhan di Kalimantan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sejarah geologisnya dengan Jawa. Di Jawa terdapat pengaruh gunung api yang menyediakan sumber air tanah, sedangkan di Kalimantan Timur tidak terdapat gunung api aktif yang dapat membentuk akuifer air tanah dalam,” jelas Nicko kepada Korankaltim.com, Rabu (24/9/2025).
Ia mengatakan, meskipun Kalimantan tidak memiliki cadangan air tanah dalam yang signifikan, wilayah ini justru memiliki potensi air permukaan yang besar.
“Jangan lupa, di sini yang cukup melimpah adalah air permukaan, seperti sungai dan bendungan. Artinya, kita memang harus mengoptimalkan pemanfaatan air permukaan dengan membangun bendung dan embung,” tambahnya.
Nicko juga menegaskan intensitas curah hujan di Kalimantan berbeda dengan di Jawa. Perbedaan inilah yang mendasari pembangunan sejumlah bendungan untuk menopang kebutuhan air bersih dan irigasi di wilayah IKN dan sekitarnya.
“Itulah sebabnya IKN membangun bendungan, karena pemanfaatan air tanah tidak memadai. Di Kaltim, sumber air andalan adalah air hujan dan air permukaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nicko mengingatkan konsep pemanenan air hujan bukanlah hal baru, melainkan strategi yang lazim diterapkan di daerah tanpa cadangan air tanah yang memadai.
“Konsep pemanenan air hujan memang sudah umum untuk lokasi seperti kita, yang tidak memiliki reservoir air tanah yang cukup,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Pemkab PPU menilai pembangunan infrastruktur air permukaan, seperti bendungan dan embung, merupakan langkah krusial untuk menjamin ketersediaan air di kawasan penyangga IKN.
Editor: Erwin