Gundukan yang mencapai ketinggan 60 sentimeter itu, sejak dibuka secara umum pada 11 September 2017 telah menelan belasan korban, salah satunya adalah pengendara roda empat yang kehilangan kendali saat melewati jembatan itu. Umumnya oengendara tidak mengetahui kondisi jalan hingga menabrak tiang listrik, terlebih tidak adanya penerangan jalan di kawasan tersebut.
Lanjut Mardhani, dirinya merasa khawatir karena Jembatan Lawe-lawe tanpa penerangan terlebih jika pada malam hari.
“Kami ingin jembatan itu segera dibenahi, sejauh ini kami telah berkoordinasi dengan beberapa instansi, seperti Chevron Indonesie Company, menurut informasi telah sampai ke pihak satuan kerja Perencanaan dan Pengawasan jalan Nasional (P2JN) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” tuturnya.
Pembangunan jembatan dan perbaikan drainase di jalan provinsi kilometer 14 RT 02 Kelurahan Lawe-lawe ini menggunakan dana Corporate Social Responsibility atau CSR dari Chevron Indonesie Company.
Pemerintahan Kabupaten PPU juga menyampaikan telah melakukan komunikasi dengan pihak Kementrian PUPR melalui balai Jalan dan Jembatan yang berada di Kalimantan Selatan terkait permasalah jembatan yang menggunakan dana CSR itu. (wn1017)