Dalam pertemuan Mudyat membahas sejumlah proyek strategis yang dibutuhkan masyarakat PPU, diantaranya pembangunan Jembatan Riko dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Buluminung.
“Saya sudah ketemu Menteri PUPR, ada beberapa kegiatan yang dibahas dan Pak Menteri menyambut baik. PPU masih banyak keperluan seperti pembangunan Jembatan Riko, Bendungan Lawe-Lawe, Bendung Gerak Sungai Telake dan TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu),” sebut Mudyat kepada Korankaltim.com siang tadi.
Jembatan Riko dirancang untuk menghubungkan Kelurahan Gresik dan Buluminung yang dipisahkan oleh Sungai Riko. Jika jembatan ini terealisasi maka akan membuka akses bagi warga dari tiga kelurahan pesisir Gresik, Pantai Lango dan Jenebora menuju Kecamatan Penajam.
“Selama ini warga dari ketiga kelurahan itu harus menggunakan kapal atau speedboat untuk ke Penajam. Kalau lewat jalur darat bisa memakan waktu hingga dua jam. Tapi kalau Jembatan Riko dibangun, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi hanya 20 hingga 30 menit,” kata Mudyat lagi.
Selain infrastruktur jalan, Mudyat juga mengusulkan pembangunan TPST di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buluminung, Kecamatan Penajam. Usulan ini sejalan dengan penguatan program ketahanan pangan dan pengelolaan sampah terpadu.
“Pembicaraan dengan Pak Menteri juga membahas soal ketahanan pangan. Kami ingin agar PPU sebagai daerah penyangga IKN tidak tertinggal. Justru harus selaras dengan pembangunan ibu kota negara yang induknya berada di PPU,” sebut Mudyat.
Mudyat memastikan dirinya mendukung penuh pembangunan IKN dan berkomitmen untuk mensejahterakan masyarakat melalui pembangunan infrastruktur yang merata. “Ini satu diantara program 100 hari kerja kami,” tutup Mudyat.
Editor: Aspian Nur