“Mungkin tahun ini, bulan ini saya tarik diri untuk mengurusi yang namanya corona ini, baik dalam pengadaan dan penanganannya saya tarik diri,” ungkapnya, Selasa (29/6/2021).
Keputusan itu dilakukan karena tidak ingin tersandung permasalahan hukum yang ditimbulkan dalam pertanggungjawaban anggaran penggunaan Covid-19 di Benuo Taka.
“Nanti akan menimbulkan masalah, kami tidak ingin ada masalah, kalau misalnya kami menarik diri untuk tidak mengurusi masyarakat lagi, bagaimana mau diurusi kalau jadi masalah,” akunya.
Dia mengakui seperti pengadaan chamber atau bilik sterilisasi khusus untuk kendaraan dan manusia kini di permasalahkan sehingga harus diperiksa oleh aparat penegak hukum.
“Kami pengadaan chamber jadi masalah, padahal masker saja yang dari harga Rp50 ribu per kotak saat itu di tahun 2020 itu menjadi ratusan hingga jutaan sekotaknya,” bebernya. Sejak virus corona mulai melanda pemerintah daerah memutuskan untuk membeli bilik disinfektan sebanyak 100 unit.
Alat tersebut termasuk bilik sterilisasi untuk roda empat yang berjumlah 4 unit dengan anggaran senilai Rp 4,7 miliar. Pengadaan bilik sterilisasi kendaraan nilainya Rp 2 miliar dibayarkan uang muka Rp 500 juta.
Penulis : Erwin
Editor : Bambang Irawan