Sementara itu, lanjutnya, dalam hal pengawasan gas elpiji di PPU, pihaknya telah menggelar rapat dengan agen dan pangkalan gas elpiji seluruh PPU. Dalam rapat itu, pemerintah meminta agar agen dapat melakukan pengawasan membantu pemerintah dan melakukan pembinaan kepada pangkalan yang ada di bawahnya.
“Intinya kami tidak ingin ada kekosongan stok di tingkat pangkalan yang berjumlah sekitar 50 pangkalan selama ini mengambil gas di tiga agen tersebut. Tahun ini, PPU mendapat kuota gas elpiji subsidi sebanyak 1.600.000 tabung, setiap bulannya disalurkan sekitar 8 persen, harapannya di Ramadan dan lebaran nanti jumlah salur itu ditingkatkan,” kata Rusli.
Diakuinya, memang sempat terjadi kekosongan stok gas subsidi di pangkalan di wilayah Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam. Diduga terjadinya pembelian gas melebihi standar oleh beberapa pengecer. Namun, kini masalahnya telah diselesaikan dan normal kembali.
Terkait ketersediaan BBM, lanjutnya, hingga kini terpantau aman dan tidak ditemukan ada masalah, harapannya Pertamina juga menambah jatah salur di bulan Ramadhan dan lebaran mendatang. Selain itu, pihaknya telah mengintruksikan kepada pemilik SPBU PT Kini Maju yang berada di Km 1 Kelurahan Penajam, untuk segera beroperasi setelah melakukan pembenahan pasca terbakarnya SPBU itu di 14 November 2016 silam.
“Informasinya SPBU itu akan menambah jumlah dispenser atau nozzle BBM yang tadinya hanya tiga saja kini menjadi empat dispenser. Harapannya jika SPBU ini beroperasi distribusi BBM kepada masyarakat pengguna dapat terjamin, sebab di Penajam kelak ada dua SPBU yang beroperasi secara maksimal,”tukasnya.
Untuk kuota BBM dari Pertamina, tambahnya, jumlah disesuaikan dengan kemampuan pemilik SPBU atau APMS. Tetapi diharapkan para pemilik dapat menambah kuota BBM tersebut selama Ramadan dan ketika musim mudik dan arus balik mudik lebaran kelak. (nav)