Sekretaris Daerah (Sekda) AS Fathur Rahman mengatakan bahwa pertemuan itu merupakan langkah Pemkab untuk mengetahui progres kerja sama setelah dua tahun berjalan. Meskipun pertemuan antara Pemkab dengan Kyriad Sadurangas Hotel selama ini sering dilaksanakan dalam skala yang lebih kecil.
Fatur mengatakan, hasil evaluasi akan disampaikan ke Bupati Paser sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan selanjutnya. “Bupati Paser bisa menjadikan hasil evaluasi ini sebagai pertimbangan untuk menentukan kebijakan terhadap kerjasama Pemkab Paser dengan Pengelola Kyriad Sadurengas Hotel,” ungkapnya.
General Manajer Kyriad Sadurengas Hotel Ale Mahrus mempersilakan Pemkab untuk melakukan peninjauan dan evaluasi. “Kami selaku pihak hotel, hanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjalankan usaha sambil berupaya memberikan kontribusi bagi Pemerintah Kabupaten Paser,” ujar Ale saat ditemui, Senin (6/8).
Ia juga mengklarifikasi terkait informasi bahwa suara dari ruang karaoke di hotel tersebut terdengar sampai di kawasan Rumah Sakit Panglima Sebaya Tanah Grogot.
“Sebenarnya bukan berasal dari hotel ini karena ruang karaoke dan ballroom disini menggunakan peredam suara. Di samping itu kami sudah mencoba beberapa kali mengetes suara keluar dengan menggunakan pengeras suara di semua bagian hotel, ternyata tidak ada suara yang keluar,” jelas Ale.
Director of Development PT Kyriad Hotel Indonesia (KHI) Prasetyo Waseso mengatakan bahwa dari ratusan hotel Kyriad yang dikelola, Hotel Kyriad Sadurangas ini dalam kategori sehat dalam hal keuangan. Kerja sama dengan Pemkab selaku pemilik aset berjalan baik.
Disampaikannya, ada peningkatan hunian dari 2016 ke 2017. Tentunya berdampak pada pemasukan hotel itu meski belum signifikan. “Namanya baru mulai operasi, tentu kami siap untuk berkorban terlebih dahulu. Bahkan ketika kami ambil alih manajemen pada 2016, saya kira saldo kosong, tapi ternyata ada hutang yang harus kami bayar. Namun itu kami anggap sebagai konsekuensi. Perlahan kami benahi sampai bisa seperti saat ini,” papar Prasetyo.
Meski hasilnya belum terlalu memuaskan, Prasetyo mengaku bisa memaklumi karena kondisi perhotelan sangat dipengaruhi dengan kondisi perekonomian di suatu daerah. “Jika tren dua tahun terakhir bisa dipertahankan maka dalam beberapa tahun ke depan akan kelihatan hasil optimal yang bisa dicapai,” pungkasnya. (dc1217)