Menurutnya, jumlah pendaftar tak berbanding dengan besaran kuota setiap tahunnya. “Inikan belum ditotal setahun ini baru data sejak awal 2018, dan ini jumlahnya sudah mencapai 5.454 orang dan dipastikan ini masih akan bertambah, sedangkan kuota haji Paser hanya 247 orang, ini jelas sangat tidak sebanding,” katanya.
Khairani memperkirakan jika tidak ada penambahan kuota haji, maka warga yang mendaftar tahun ini baru akan mendapat kesempatan berhaji pada 23 tahun mendatang. “Kuota haji kita 247 orang, kalau tidak ada perubahan atau penambahan kuota diperkirakan calhaj yang mendaftar tahun 2018 ini akan berangkat 23 tahun lagi,” ucapnya.
Sebanyak 5.454 daftar calhaj tersebut terdiri dari 2.458 peserta laki-laki dan 2.996 peserta haji perempuan dengan usia yang bervariasi dan didominasi usia produktif. Untuk tahun 2018 ini dari 247 peserta Calhaj mendapatkan kuota lansia sebanyak 7 orang serta 2 orang pendampingnya.
“Untuk tahun ini usia tertua yang menjadi peserta calhaj berusia 87 tahun. Jika Calhaj lansia merasa membutuhkan pendamping harus dari keluarga kandung, seperti istri atau anak kandung sendiri dibuktikan denga surat-surat pendukung,” tetang Khairani.
Aisyah menambahkan, biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun ini naik tetapi dibarengi dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan. “Dari BPIH sebelumnya yang sebesar Rp38.039.150,- kini menjadi Rp. 38.525.445,- untuk satu orang. Dengan kenaikan ini tentu dibarengi dengan peningkatan pelayanan serta fasilitas yang akan diterima jamaah haji,” jelas Aisyah.
“Untuk pelayanan tentu ada peningkatan, tetapi kami belum mengetahui bagaimana rinci peningkatan pelayanan kepada para jamaah nanti di tanah suci,” imbuhnya.
Khairani berharap, warga yang sudah mendaftar bisa bersabar menunggu giliran keberangkatan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. (dc1217).