Ke depannya, jika telah beroperasi, lanjut Usman, SPBE yang dikelola PT Bintang Babulu Mandiri (BBM) masih akan terkendala dengan jalur transportasi lantaran jalan di Kilometer 38 Samboja-Simpang Silkar Kelurahan Petung masih rusak parah.
Buruknya jalan itu perkirakan akan berdampak pada pasokan liquified sehingga SPBE itu nantinya hanya akan melayani para agen di Kabupaten PPU dan Kabupaten Paser secara bertahap.
“Kan mereka membawa liquid, jadi harus berhati-hati dan diperkirakan membutuhkan waktu 10 jam, berarti harinya itu cuma dua kali 1 mobil, sehingga pelayanan kepada para agen bertahap,” jelasnya.
Ahmad yang juga menjabat Asisten III Pemkab PPU berharap adanya SPBE itu dapat memberikan kemudahan kepada warga dalam mendapatkan tabung elpiji subsidi 3 Kilogram lantaran selama ini masih kerap terjadi kelangkaan.
“Jika ada kelangkaan dan lonjakan harga di suatu wilayah, Disperindagkop UKM tinggal menghubungi para agen sehingga tidak ada lonjakan yang berarti,” tutupnya.
Sejak 1 Januari 2015, HET elpiji subsidi ditetapkan oleh Pemkab PPU sebesar Rp20.000 per tabung. Namun jika SPBE itu beroperasi HET akan mengalami penurunan, yakni Kecamatan Penajam dan Sepaku akan menjadi sebesar Rp19.000 per tabung, serta di Kecamatan Waru dan Babulu Rp18.000 per tabung.
Tetapi khusus untuk Kelurahan Pantai Lango, Jenebora dan Kelurahan Gresik yang berada di wilayah Kecamatan Penajam ditetapkan HET elpiji bersubsidi sebesar Rp22.000 per tabung sebab jarak tempuh cukup jauh dan berat. (wn1017)