Ia menjelaskan, seorang penderita gizi buruk yang tidak memiliki penyakit bawaan dari lahir dapat disembuhkan dengan cara memberikan makanan tambahan. Dia optimistis angka kasus gizi buruk di Benua Takan akan terus menurun pada tahun 2018.
Menurut Arnold, petugas gizi yang terdapat di Puskesmas terus memberikan sosialisasi bahwa anak perlu suplemen gizi. Selain itu, ia berharap kepada seluruh orang tua untuk lebih memperhatikan dan mengutamakan gizi anaknya.
“Orang tua harus memperhatikan makanan anaknya dan menyampingkan kebutuhan yang mungkin tidak terlalu diperlukan, seperti membeli rokok, lebih baik untuk membeli makanan anak, meskipun ada makanan tambahan dari Dinas Kesehatan, tapi itu tambahan, jangan sampai kekurangan gizi, “ungkapnya.
Kasubbid Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten PPU Maryumi menjelaskan rata-rata penderita gizi buruk yang memiliki penyakit Hydrocephalus, Down Syndrom dan Cerebral Palsy cukup sulit untuk disembuhkan. Namun sejak tahun 2016 silam, angka penderita gizi buruk di PPU terus mengalami penurunan.
“Tahun 2016 itu ada 19 kasus, namun pada tahun ini tersisa 9 orang yang lainnya telah sembuh, adanya penurunan itu salah satunya karena kita sering melakukan penyuluhan di sejumlah Puskesmas, makanya penimbangan anak di posyandu itu sangat wajib dilakukan,” paparnya.
Maryumi mengatakan, jika orang tua rutin melakukan penimbangan berat badan anaknya di Puskesmas ataupun di Posyandu, maka dapat mempermudah pihaknya untuk memantau kasus gizi buruk. “Biasanya, selepas imunisasi, orang tua kerap acuh tak acuh dengan berat badan anak,” pungkasnya. (wn1017)