“Sampai sekarang kami masih mengandalkan air hujan, kalau tidak ada air hujan persawahan kami kering, belum ada pengairan karena irigasinya belum jadi,” ungkap Surani yang memiliki 2,5 hektare sawah ketika ditemui, Minggu (4/1).
Ia menambahkan, tidak adanya saluran irigasi menjadi permasalahan petani, sebab terkadang dalam satu tahun petani hanya dapat panen satu kali. Namun, jika hujan berlangsung stabil, maka satu tahunnya dapat melakukan dua kali panen.
“Kami berharap, yang terpenting itu irigasi pertanian ndan jalan yang menuju sawah, biar kalau sudah panen itu enak di bawah pulang gabahnya, karena saat ini masih banyak yang rusak,” ujarnya.
Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Yusran Aspar menjelaskan pembangunan irigasi sedang diproses karena pemerintah pusat telah menganggarkan dan untuk membangun bendungan untuk irigasi persawahan.
Pemerintah pusat menggelontorkan dana sekitar Rp2,5 miliar untuk perencanaan dan Amdal Bendungan Lambakan, kemudian Bendungan Gerak Telake kurang lebih Rp18 miliar.
“Sudah ada kepastian bahwa itu akan dibangun oleh pemerintah, tinggal petani yang jangan merubah lahan pertanian ke perkebunan (sawit) karena sawah jauh lebih menguntungkan dibanding sawit, Insya Allah keinginan masyarakat itu akan segera dipenuhi, ”pungkasnya. (wn1017)