Kini, hanya tiga mesin yang difungsikan dan membuat jam pelayanan diberlakukan pada malam hari. Sebelum ada kerusakan, pelayanan dilakukan sore hari.
“Pihak rumah sakit disini memberitahukan sekarang hanya satu kali dalam seminggu, mungkin karena alatnya rusak dan saya mengkhawatirkan itu. Sebab selama ini seminggu dua kali, terlebih cuci darah ini tidak boleh terlambat, harus secara rutin,” ungkap Arfah kepada media ini, Rabu (24/1).
Menurutnya, untuk memperbaiki dua komponen alat cuci darah itu, pihak pengelola telah mengajukan anggaran kepada pemerintah daerah. Hingga kini belum mendapatkan respon.
Pihak RSUD Ratu Putri Aji Botung mengkhawatirkan jika alat tersebut tidak segera diperbaiki maka layanan unit pelayanan cuci darah berhenti pada Februari 2018.
Dampaknya, pasien harus menjalani pengobatan di RSUD Kanujoso Jatiwibowo, Balikpapan. “Sangat berat jika harus ke Balikpapan lagi, terlebih ongkos transportasi cukup besar, terlebih kondisi fisik istri saya sudah tidak lemah, berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang masih memungkinkan untuk pulang balik Penajam -Balikpapan,” ucapnya.
Pasien yang menjalani cuci darah di RSUD Kabupaten PPU itu mencapai 23 orang. Hal ini sangat membutuhkan perhatian pemerintah.
“Pada dasarnya pasien Hemodialisis adalah berjuang dengan sakaratul maut, sedangkan kondisi fisik dan biaya kami sudah tidak mampu, kami sifatnya tidak mengancam, namun hanya memohon kebijaksanaan pemerintah untuk memperhatikan keluhan kami,” harapnya. (wn1017)