Ada empat kampus yang mengirimkan perwakilan BEM, masing – masing Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Widya Praja, BEM Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Muhamadiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ibnu Rusyd dan Politeknik Negeri Paser (POLINEPA).
“Mengapa kali ini kami mengundang mahasiswa sebagai peserta dalam forum FGD ini karena mahasiswa merupakan agent of control dalam setiap keputusan pemerintah. Mahasiswa masih memiliki pemikiran yang idealis,” tukas Nur.
Sesi diskusi berlangsung cukup hangat. Seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh Muhammad Yasri, mahsiswa Polinepa. “Bagaimana kalau kami ingin melaporkan setiap kami mendapati pelanggaran pemilu, tapi kami masih takut akan keselamatan diri karena tidak ada jaminan keselamatan?” ujarnya.
Nur menjawab, Panwaslu dalam menjalankan tugasnya pun tak ada jaminan keselamatan. “Tapi yakin saja kalau yang kita lakukan benar, Insya Allah kita akan diselamatkan dan dijauhkan dari bahaya,” tegasnya.
“Sebenarnya untuk menyiasati keadaan tersebut kami sudah membuat suatu formula yang akan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melapor. Jadi bagi masyarakat yang akan hendak melapor bisa memberikan kami informasi awal terkait terjadinya pelanggaran tersebut. Setelah itu biarkan kami sebagai Panwas yang menangani. Sepanjang informasi tersebut benar terjadi dan ada buktinya” imbuhnya.
Nur juga mengharapkan kepada mahasiswa agar hasil diskusi tersebut benar-benar berbuah dukungan mahasiswa untuk ikut mengawasi Pemilu. (dc1217)