“Penyakit itu ditandai dengan pembentukan pseudo-membran mukosa, jadi pada amandelnya itu ada membran putih-putih, itu salah satu gejala difteri dan ada demam serta batuk dan nyeri tenggorokan,” ujar Eka Wardhana ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/12).
Ia memaparkan penyakit yang telah banyak merenggut nyawa itu dapat menyerang semua golongan usia, sehingga rentan terjadi penularan. Penularannya sediri dapat disebabkan dengan cara kontak langsung dengan penderita atau breathing airborne particles.
“Menyebabkan kematian itu karena menyerang syaraf terus mengganggu jantung sehingga dapat membahayakan” tuturnya.
Dinkes PPU terus melakukan pemantauan gejala penyakit Difteri menyusul datangnya surat pemberitahuan Kemenkes RI untuk mewaspadai penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri itu.
Dari data yang dihimpun, dalam kurun waktu 2014 hingga 2016, ditemukan kasus Difteri rata-rata sebanyak 37 kasus perbulan yang penyebarannya meningkat dari 11 Provinsi di 2014, sementara 2016 menjadi 21 provinsi.
Pada 2017, berdasarkan hasil pemantauan serta analisis terhadap laporan surveilans PD3I dan laporan Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) yang dilaporkan Provinsi bahwa jumlah kasus Difteri dari Januari hingga September 2017, terdapat sebanyak 494 kasus yang tersebar di 23 Provinsi.
23 Provinsi itu yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi tenggara, Aceh, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Riau, Sumatera Utara, Sumatera barat dan Papua. (wn1017)