Pengungkapan ini menjadi perhatian karena adanya perubahan modus dalam pengemasan sabu. Jika sebelumnya pelaku kerap menggunakan bungkus teh hijau asal Malaysia, kali ini ditemukan kemasan berbeda bergambar tikus.
Pola tersebut diduga sebagai upaya baru untuk mengelabui petugas dan menghindari kecurigaan saat proses distribusi.
Kasat Resnarkoba Polresta Samarinda, Kompol Bangkit Dananjaya, mengatakan pihaknya masih mendalami asal-usul kemasan tersebut, termasuk kemungkinan adanya perubahan strategi dari jaringan narkotika.
“Bisa jadi memang ada perubahan modus dari pelaku, tapi ini masih kami dalami,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Kemasan bergambar tikus ini juga disebut memiliki kemiripan dengan barang bukti sabu seberat sekitar 11 kilogram yang sebelumnya diungkap Ditresnarkoba Polda Kaltim di Kutai Timur. Namun demikian, polisi memastikan bahwa kedua kasus tersebut tidak saling berkaitan.
“Berbeda, tidak saling berhubungan,” tegasnya.
Meski begitu, Bangkit tidak menutup kemungkinan adanya keterkaitan di tingkat jaringan yang lebih tinggi, mengingat kesamaan metode pengemasan yang digunakan.
“Ya, mungkin jaringan atasnya sama, tetapi yang kami tangani ini berbeda dengan yang diungkap Polda. Jadi masih kami dalami lagi, apalagi pemilik barang masih dalam pengejaran,” jelasnya.
Saat ini, penyidik fokus mengungkap peran BO sekaligus menelusuri jalur distribusi sabu tersebut. Polisi juga berupaya memastikan apakah kemasan tersebut merupakan produksi mandiri atau bagian dari sistem jaringan narkotika yang lebih luas.
Editor: Erwin