Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur Brigjen Pol Rudi Hartono menyebut Kaltim kini bukan lagi sekadar daerah lintasan, melainkan telah berkembang menjadi pasar potensial bagi sindikat narkotika dari berbagai daerah hingga jaringan lintas negara.
“Kalimantan Timur secara ekonomi sangat kuat. PDRB kita nomor dua nasional setelah Jakarta. Pendapatan per kapita tinggi, mobilitas masyarakat juga tinggi. Ini yang membuat daerah kita menjadi incaran jaringan narkoba,” ujar Rudi, Rabu (31/12/2025).
Dengan luas wilayah sekitar 125 ribu kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa, Kaltim memiliki karakter wilayah yang luas namun relatif jarang penduduk. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan, terlebih dengan dominasi sektor tambang, perkebunan sawit, migas, serta proyek-proyek strategis berskala besar.
“Banyak pekerja tambang, sawit, migas, termasuk pekerja yang berhari-hari di laut atau lokasi proyek. Mereka memiliki daya beli dan tingkat kerentanan tinggi. Ini yang dimanfaatkan jaringan narkoba,” jelasnya.
BNNP Kaltim mencatat peredaran narkotika di wilayah ini melibatkan jaringan lintas daerah. Pasokan berasal dari berbagai wilayah seperti Aceh, Medan, Pontianak, Surabaya, hingga luar negeri, termasuk Malaysia. Modus pengiriman pun terus berubah mengikuti pola pengawasan aparat.
“Kalau ditutup satu titik, mereka pindah ke tempat lain. Pergerakannya sangat dinamis,” ungkap Rudi.
Diharapkan peredaran narkoba seperti penularan yang cepat menyebar seiring tingginya aktivitas masyarakat. Karena itu, BNNP Kaltim menegaskan upaya pemberantasan tidak hanya melalui penindakan hukum, tetapi juga pencegahan, rehabilitasi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Kalau hanya menindak tanpa menekan permintaan, masalah ini tidak akan selesai,” pungkasnya.
Editor Aspian Nur