Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham) Kaltim-Kaltara Endang Lintang Hardiman menegaskan hal tersebut yang menurutnya X-Ray sangat diperlukan untuk mencegah barang terlarang masuk ke dalam lapas atau rutan khususnya di Kaltim-Kaltara.
"Contoh saja di bandara pasti ada, walaupun bandara kecil, tujuannya untuk mendeteksi barang terlarang, sama halnya di lapas atau rutan, dengan berbagai cara, masih ada saja yang berupaya menyelundupkan narkoba," papar Endang kepada media.
"Agak susah mengamankan jalur-jalur masuknya narkoba, karena pelaku menggunakan berbagai cara dan modus, misalnya lewat makanan, kami bongkar-bongkar, dipilah-pilah, kalau tidak ditemukan nanti malah justru negatif, dibilang tidak manusiawi, mau dimakan tapi diobok-obok, padahal tujuannya untuk mencegah itu (narkoba)," sambungnya.
Modus-modus yang digunakan para pelaku tersebut bermacam-macam, mulai dari makanan, barang-barang seperti ikat pinggang, sepatu, sendal dan lainnya.
"Jadi selalu muncul modus-modus baru, karena ada konsumennya disitu. Makanya, kami pun juga melakukan tes urine hingga ke petugasnya. Seperti di lapas narkotika, dari 900 WBP, 600 itu kami lakukan tes, hasilnya negatif, artinya narkoba tidak masuk, tetapi kalau ada yang positif berarti ada masuk walaupun skala kecil, inilah jadi tolok ukur kami," jelas Endang.
Di Kaltim sendiri diakuinya alat tersebut ada di Lapas Narkotika di Samarinda Utara tetapi tidak berfungsi karena rusak. "Alatnya di lapas narkotika itu rusak, harganya mahal, teknisinya pun tidak ada disini, kami harus menyampaikan lagi ke pusat setelah ditunggu-tunggu tidak datang," ungkap Endang lagi.
Dengan imigrasi dan pemasyarakatan menjadi kementerian sendiri Endang berharap membawa dampak positif. "Mudahan jalurnya bisa cepat, tidak lagi berbelit-belit, harus kesana sini. Anggaran bisa langsung, kalau misalnya setiap lapas/rutan harus punya X-ray, itu langsung diajukan, kalau rusak ya diganti," sebutnya.
Sesuai dengan arahan dari Dirjen, semua lapas/rutan di indosnesia pun wajib menyiapkan alas kaki. "Kalau ada yang mau besuk disiapkan alas kaki dari lapas/rutan, ini memang sudah menjadi standarisasinya," ucap Endang.
Selain itu mereka juga melakukan upaya melalui keagamaan di lapas/rutan, hal ini juga diakuinya membantu mereka seperti bandar-bandar untuk insaf.
"Itu rutin kami lakukan, karena dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta membuat mereka sadar suatu saat nanti akan meninggal. Makanya, bandar-bandar ini harus diberangus dulu, diantaranya melalui keagamaan," tutup Endang.
Editor: Aspian Nur