Safaruddin, warga sekitar menjelaskan, awalnya dirinya dimintai tolong oleh warga lain untuk mengecek kondisi pria yang tinggal di sebuah bangsal, lantaran sejak malam hingga siang tak terlihat.
"Kemarin almarhum sempat terjatuh dua kali karena dia sakit stroke, kami sempat menolong, tetapi masih bisa jalan," ungkap pria 51 tahun itu saat ditemui di lokasi kejadian hari ini.
Pagi hingga siang tadi warga coba untuk mengecek dan mengetok-ngetok pintu bangsalnya tetapi tidak ada respon.
"Makanya, saya sama warga lainnya dan disaksikan ketua RT mencoba mendobrak pintu, saat terbuka kondisinya sudah tertelungkup di depan ranjang," sebutnya.
Almarhum memang kurang bersosialisasi dengan warga sekitar karena sakitnya stroke membuatnya jarang keluar rumah.
"Jarang sosialisasi, paling kalau keluar dia hanya mau berobat naik ojek online saja," jelas Safaruddin lagi.
Almarhum sendiri disebutnya menyewa dibangsal tersebut sekitar setahunan dan tinggal seorang diri alias sebatang kara.
"Tidak terlalu kenal juga, kalau namanya biasa warga panggil pak Martinus, usianya sekitar 60 tahun. Keluarganya tidak ada, tetapi katanya dia itu dulunya pendeta dan jemaahnya pernah datang berkunjung," ucap Safaruddin lagi.
Sementara Bhabinkamtibmas Lok Bahu Aiptu M Yazid mengatakan hingga saat ini pihaknya masih mencari identitas almarhum, lantaran saat awal pertama menyewa tidak memberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
"Ditanya RT nya bilangnya nanti dikasih, tetapi sampai sekarang tidak ada," katanya.
Mereka pun berusaha mencari keluarga almarhum, melalui ponselnya tetapi rata-rata baru mengenal.
"Rata-rata itu kontaknya ojek online semua, kan dia sakit-sakitan, jadi berobat naik ojol," ujar Yazid lagi.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak kerukunan warga Toraja karena informasinya dia suku Toraja "Ya kami berharap nantinya bisa ada yang mengenal," harap Yazid.
Hingga berita ini diturunkan almarhum sudah dibawah ke kamar jenazah Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) setelah dilakukan olah lokasi kejadian oleh tim Unit Inafis Polresta Samarinda.
Editor: Aspian Nur