Diketahui jika CR menjadi satu-satunya WBP yang selamat pasca mengalami kejang-kejang, usai menenggak gaduk dan sempat kritis. Tetapi, setelah menjalani perawatan, CR diperbolehkan keluar rumah sakit pada 26 September lalu, sehingga CR pun merupakan saksi kunci terkait tiga rekannya yang tewas.
Ditanya, soal hasil keterangan serta pemeriksaan yang dilakukan terhadap CR, Sena masih enggan membeberkannya. "Kalau itu nanti ya, kami masih akan mengecek keterangan saksi-saksi, dengan hasil autopsinya dan ini kami masih menunggu hasilnya (autopsi)," ujar perwira satu melati tersebut.
Sementara terkait jumlah saksi yang telah dimintai keterangan, pihaknya belum bisa memastikan. "Yang pasti ada penambahan, pastinya saya cek dulu ya, tetap lebih dari 13 orang," singkatnya.
Diberitakan sebelumnya, pada Kamis (22/9/2022) lalu sekitar pukul 22.10 WITA empat WBP Lapas Kelas IIA Samarinda dirujuk ke rumah sakit karena mengalami kejang-kejang dan muntah, satu dilarikan ke RS Dirgahayu IR, sedangkan lainnya yakni RZ, RS dan CR dilarikan ke RSUD Abdul Wahab Syahranie.
Meski sempat mendapatkan penanganan medis, tiga WBP yakni IR, RZ dan RS meninggal dunia, sementara CR saat itu mengalami kritis. Pasca, dinyatakan meninggal dunia, ketiganya pun langsung dilakukan autopsi guna mengetahui penyebab pasti tewasnya tiga WBP tersebut, setelah itu langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Berdasar informasi saat itu, jika keempat WBP ini yang diduga mengoplos minuman saset dengan cairan pembersih tangan yang mengandung alkohol 70 persen, dimana minuman yang biasa disebut gaduk ini, kemudian dimasukkan dalam kemasan botol mineral tanggung.
Penulis: Nancy
Editor: Maruly Zainuddin