Kedua pelaku pun diminta memperagakan, bagaimana peristiwa tersebut terjadi, mulai dari ponsel milik kedua santri ini disita oleh korban, hingga merencanakan untuk mengambil kembali handphone tersebut.
Mereka pun merencanakan untuk mengambil kembali handphone yang disita, dengan cara membuat korban pingsan, yakni menggunakan balok kayu yang dipegang masing-masing santri untuk memukul sang guru.
Terlihat dari balik pintu kaca aula, kedua pelaku yang menggunakan topeng bagaimana cara menganiaya korban, yang masing-masing membawa sebuah balok kayu dan memukulkannya.
Dari pra rekonstruksi yang dilakukan ini, setidaknya ada 22 adegan yang diperankan pelaku, mulai dari asrama hingga tersangka ini mengeksekusi korban dan kembali lagi ke asrama.
Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Andika Dharma Sena saat dikonfirmasi mengatakan pra rekonstruksi yang dilakukan tersebut untuk mengetahui peran masing-masing.
"Ya, terkait seperti apa kronologisnya," kata Sena.
Saat disinggung soal bagaimana unsur perencanaan yang dilakukan oleh kedua pelaku, Sena menyebutkan dari pra rekonstruksi tersebut pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu.
"Hasil ini akan kami pelajari, kalau memang ada tambahan dari penyidik, akan ambil keterangan lagi dari tersangka," ungkapnya.
"Tetapi, kalau memang dirasa sudah cukup, ya sudah rekonstruksinya seperti ini, makanya ini kami pra dulu," sambungnya.
Selain itu, Sena pun membenarkan jika persoalan tersebut disebabkan karena ponsel kedua tersangka disita oleh korban. "Seperti itulah," singkatnya.
Penulis: Nancy
Editor: Supiansyah