"Kalau anak saya dipegang bagian dadanya, yang lain ada yang lebih parah, makanya kami ingin melanjutkan kasus ini ke polisi," kata orangtua tersebut. Peristiwa yang membuat putrinya trauma itu menurut si orangtua belangsung saat anaknya sedang memasak di dapur. “Saat itu anak saya diminta memasak telur ceplok di dapur lalu diraba dadanya," paparnya.
Dirinya baru mengetahui kejadian tersebut ketika salah satu teman anaknya malam hari menghubungi orangtuanya untuk datang ke lembaga pendidikan tersebut karena ketakutan usai dicabuli sang oknum pengasuh. "Pertama kali tahu ada anak yang mengaku sudah menjadi korban cabul, ada 9 orang yang mengaku dengan orangtuanya. Anak saya gak berani ngomong lalu saya bersama istri mendatangi lokasi kejadian dan menanyakan kepada anak saya, dia nangis menceritakan itu," paparnya.
Orangtua wali lainnya mencoba menkonfirmasi kepada oknum pengasuh lembaga pendidikan tersebut. "Kai mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan, dia sempat meminta kepada para orangtua korban untuk tidak memperpanjang masalah karena kalau diketahui orang banyak bisa hancur keluarganya. Tapi dia harus menerima konsekuensi dia kan tokoh," tegasnya.
Pasca kejadian itu oknum pengasuh lembaga pendidikan tersebut mengundurkan diri dengan dalih difitnah. "Dia mengumpulkan anak-anak mengaku difitnah, kami kaget fitnah apa kan dia sudah mengakui sendiri perbuatannya lalu dia mengundurkan diri,"cetusnya dengan nada geram.
Saat ini pihaknya bersama orangtua korban lainnya tengah berkonsultasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Balikpapan. "Sekarang pelaku sudah keluar dari yayasan. Upaya yang dilakukan korban lain sedang berkonsultasi ke UPTD PPA untuk konsultasi. Anaknya dikonseling dulu," jelasnya.
Dihubungi terpisah Konselor Hukum Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Balikpapan Muhammad Hilal mengatakan secara resmi pihaknya bersama korban melaporkan kejadian tersebut ke Polda Kaltim.
Pukul 16.45 WITA sore tadi korban bersama tim melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Kaltim. "Sudah ada dua korban yang melapor ke kepolisian barusan sudah kami laporan di SPKT kemudian ke Renakta dan divisum untuk proses selanjutnya kita tunggu dari Renakta," kata Hilal.
Dalam pelaporan ke Polda Kaltim korban didampingi orangtua, pengacara UPTD PPA, psikolog serta pekerja sosial. "Kami harapkan diproses secepatnya,” ujar Hilal lagi. Nama ataupun inisial oknum tersebut belum bisa diungkapkan dikarenakan masih dalam proses pelaporan ke kepolisian.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Aspian Nur