Simpulan itu, kata Fadholi diketahui berdasarkan pantauan yang dilakukan ke THM yang ada di Kota Tepian. Bersyukur, manajemen THM kini mulai menyadari tentang bahaya narkoba akan memberi dampak buruk bagi usaha mereka.
"Mereka sudah mulai sadar dan tahu risikonya, kalau misalnya ada yang menjual narkoba, di THM mereka, akan berdampak buruk dan membuat rugi. Sehingga, mereka komitmen untuk pencegahan di internal mereka," tutur Fadholi.
"Jadi, mereka ini untuk karyawannya ya memang selalu rutin, tes urine dan kalau misalnya, ketahuan bisa dipecat," sambungnya.
Namun demikian, dengan beralihnya pengguna narkoba, di lingkungan THM, malah justru berdampak kepada para pekerja tambang dan perkebunan.
Menurut Fadholi saat ini, para bandar narkoba mulai mengubah pola penjualan dan sasaran mereka. Yang, biasanya di menyasar masyarakat umum, kini beralih ke para pekerja.
"Pola pikir masyarakat menganggap narkoba sebagai doping, artinya menambah stamina mereka saat bekerja," ujarnya.
"Mungkin iya melek 3 hari, tapi setelah itu kan mereka drop sampai 4 hari lamanya. Tentu ini bisa merusak tubuh dan merugikan perusahaan, karena membuat pekerja menjadi tidak fokus," sambungnya.
Dan memang masih banyak masyarakat yang beranggapan narkoba itu solusi, padahal itu mejadi awal kehancuran kehidupan mereka.[]
Penulis:Nancy
Editor : Rusdi