“Ada warga yang service handphone ke Topan, sudah selesai tapi tidak sampai sehari rusak lagi dan dikembalikan, meski Topan minta uang tambahan tapi tetap diberi. Nyatanya sampai tiga kali handphone tetap tidak bagus sementara uang sekitar Rp400 ribu raib," kata Marno.
FKPM pun menelusuri akun medsos yaitu Facebook dan WhatsApp yang digunakan Topan untuk bertransaksi. “Kami datangi ke rumahnya di Juanda 8, ternyata dia tidak ada dan hanya ada temannya bernama Fadli. Ternyata Facebook dan nomor WA itu milik temannya ini," papar Marno.
Fadli sendiri tidak mengaku dan beralasan handphonenyan ditaruh di lantai dua dan tidak mengetahui siapa yang menggunakan. "Kami yakin dia ini sekongkol," sebutnya.
Untuk memancing Topan FKPM berpura-pura hendak membeli handphone, karena Topan memposting handphone yang akan dijual, kemudian terjadilah transaksi dan kesepakatan.
"Ternyata, Topan menggunakan jasa ojok online (ojol). Kami minta kepada ojol untuk bilang ke Topan kalau nomor yang pesan handphone tidak aktif dan dikembalikan ke Topan. Ojol ini langsung kembali ke Juanda 8 dan ternyata Topan yang terimakan, kam langsung koordinasi ke RT tapi saat kami datangi ke rumahnya dia tidak ada lagi," ujarnya.
Namun akhirnya Topan berhasil diamankan Minggu (5/7/2020) tadi. "Ketua RT yang memberikan info ke kami dan Topan diamankan di rumahnya Juanda 8, kemudian langsung kami amankan dan di bawa ke Polresta Samarinda untuk proses lebih lanjut. Informasi terakhir dia ini pinjam motor dan di bawa kabur," sebut Marno. (*)
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur