Namun penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriyah masih belum bisa dipastikan karena harus ditetapkan melalui dua metode yakni hisab dan rukyatul hilal.
Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Paser H Maslekhan menjelaskan, dalam penentuan awal Ramadan dimulai dengan metode hisab, metode yang digunakan untuk menentukan permulaan bulan baru qamariyah dengan cara hitungan numerik matematik.
"Kalau dalam penghitungan hisab dibulan Sya'ban ini sepakat terdapat 30 hari, maka tidak terdapat perbedaan awal Ramadan, tapi jika ada yang menghitung hanya 29 hari maka dimungkinkan terdapat perbedaan," ujar Maslekhan kepada Korankaltim.com Selasa (20/1/2026).
Karena itu setelah dilakukan hisab maka diperkuat dengan melaksanakan rukyatul hilal yang mana metode itu dilakukan dengan mengamati penampakan hilal yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtima', kondisi saat matahari dan bulan dalam satu bujur yang sama.
"Umumnya setelah dilakukan hisab maka juga dilakukan rukyatul hilal untuk bisa lebih meyakinkan kepastian awal Ramadan," sebut Maslekhan.
Dua metode tersebut akan digunakan Kemenag Paser dalam menentukan awal Ramadan 1447 Hijriyah sementara pelaksanaan rukyatul hilal akan dilaksanakan di Stadion Tanah Grogot karena cukup strategis.
"Biasanya rukyatul hilal kami laksanakan di Stadion Kecamatan Tanah Grogot karena lokasi tersebut langsung menghadap ke barat," terangnya.
Dalam pelaksanaan rukyatul hilal di Paser sering kali terkendala faktor cuaca sehingga petugas tidak dapat melihat munculnya bulan saat matahari terbenam.
"Cuaca yang tidak menentu seringkali menjadi kendala bagi petugas untuk bisa memastikan posisi bulan, karena memang untuk di Kabupaten Paser cuaca tidak menentu," pungkas Maslekhan.
Editor: Aspian Nur