Mereka merupakan sopir truk lokal dari Muara Komam, Batu Sopang dan Kuaro yang menggelar aksi damai untuk menyampaikan sejumlah tuntutan, diantaranya mereka menanyakan penyetopan angkutan batu bara yang dilakukan sejumlah warga dinilai tidak mempertimbangkan dampak sosial secara luas.
"Aktivitas pengangkutan batu bara ini memiliki dampak baik pada sektor perekonomian masyarakat mulai dari pedagang, bengkel serta sektor lainnya, sekarang dengan dihentikannya aktivitas angkutan batu bara perekonomian diwilayah ini menjadi terganggu," jelas Siswiyono, perwakilan sopir truk kepada Korankaltim.com disela aksi siang tadi.
Pria yang akrab disapa Sis Bambang itu menyebut terganggunya perekonomian masyarakat tentu akan berdampak pula pada sektor lainnya terutama dikalangan sopir truk yang hanya bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dari sektor tersebut.
"Kami para sopir bergantung pada pekerjaan ini, tidak ada angkutan lainnya. Sempat diantara kami mencoba mencari angkutan di daerah lain tapi hasilnya tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga," ungkap Sis Bambang.
Para sopir truk juga menyebut aksi penyetopan truk angkutan batu bara yang dikaitkan dengan peristiwa tindak kekerasan hingga melayangnya satu nyawa di Muara Kate tidak beralasan karena peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan angkutan truk batu bara.
"Aksi penyetopan batu bara juga dikaitkan dengan peristiwa di Muara kate, padahal sampai saat ini belum ada bukti yang jelas jika hal tersebut juga berkaitan dengan angkutan batu bara," sebutnya.
Melalui aksi damai hari ini mereka berharap Gubernur Kalimantan Timur Rudi Mas’ud serta jajaran pemerintah dapat memberikan solusi dari permasalahan yang dialamai sopir truk PS Roda 6 angkutan batu bara.
"Kami sudah sangat menderita, bahkan kami harus pergi jauh meninggalkan keluarga untuk mencoba mencari nafkah diluar Kalimantan Timur tapi hasilnya tidak sebanding dengan bekerja di wilayah sendiri," tutup Sis Bambang.
Editor: Aspian Nur