Habibullah mengingatkan agar dalam pembuatan ikon daerah lebih mengutamakan pada nilai sakralnya. "Ikon menjadi penanda penting bagi Kabupaten Paser, mengapa Burung Tiung saat ini menjadi ikon karena disetiap agenda adat masyarakat terdapat Buah Tiung," ungkap Habibullah kepada Korankaltim.com Rabu (14/5/2025).
Menurutnya, ikon Bumi Daya Taka, julukan Paser, berupa Burung Tiung sudah memenuhi unsur sakral bagi adat dan budaya. Hanya saja disarankan agar arah tugu burung tersebut bisa diubah. Kalau semula membelakangi maka diminta bisa menghadap jalan sebagai bentuk penyambutan bagi warga yang hendak masuk ke Tanah Grogot.
"Kami tidak menyarankan untuk mengubah ikon yang sudah ada, tapi kami lebih menyarankan agar bisa mengubah arah hadap termasuk pada ketinggiannya," papar Habibullah.
Terkait anggaran yang digunakan untuk perbaikan sebesar Rp1,3 Miliar menurutnya bisa menyesuaikan dengan pekerjaan di lapangan, misalnya penataan ulang terkait patung burung juga penataan taman dan lain sebagainya.
"Berkaitan anggaran mungkin bisa disesuaikan dengan penggunaannya di lapangan, mungkin saja bisa disertai dengan penataan fasilitas lainnya disekitar tugu Burung," tutup Habibullah.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Paser akan melakukan perbaikan terhadap ikon daerah setempat yaitu Tugu Patung Burung Tiung yang berada di Kilometer (Km) 05 Jalan Kusuma Bangsa, Desa Tepian Batang, Kecamatan Tanah Grogot. Tugu itu sendiri dibangun sejak tahun 2015, memakan anggaran sebesar Rp500 Juta namun mengalami kerusakan dan tak dirawat dengan baik.
Sultan Paser YM Aji Muhammad Jarnawi dalam tanggapannya mengharapkan agar dalam penentuan maskot Paser harus melalui pertimbangan tokoh adat di Bumi Daya Taka dan mengusulkan agar ikon yang semula berwujud Burung Tiung bisa diganti dengan Biyuku, hewan endemik Paser yang hanya hidup di Kalimantan Timur tepatnya di Paser dan Aceh.
"Mengapa tidak menggunakan hewan Biyuku yang merupakan hewan endemik Paser dan hidupnya saat ini berada di aliran Sungai Kandilo, sementara burung tiung habitatnya masih ada di beberpaa daerah di Kalimantan," ucapnya beberapa waktu lalu.
Editor: Aspian Nur