Keterbatasan anggaran harus menjadi momentum untuk melakukan transformasi pola pembinaan agar lebih efektif, terukur dan berorientasi pada prestasi jangka panjang.
Kndisi saat ini menuntut seluruh pemangku kepentingan olahraga untuk berpikir lebih taktis dan teknis dalam mengelola program pembinaan atlet.
"Ditengah krisis dan badai efisiensi anggaran ini, semua harus berpikir lebih taktis dan lebih teknis. Jangan sampai terlalu nyaman dan merasa aman dalam mengelola olahraga. Justru kondisi ini harus menjadi pemicu untuk melakukan perubahan," ujar Rasman kepada Korankaltim.com Rabu (3/6/2026) hari ini.
Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim telah mengalokasikan dana hibah yang cukup besar kepada KONI Kaltim.
Namun perlu dilakukan evaluasi menyeluruh agar penggunaan anggaran tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan prestasi olahraga.
Dirinya tidak ingin menyalahkan pihak manapun, melainkan mengajak seluruh elemen olahraga untuk merumuskan strategi baru yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan keuangan daerah.
"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita merumuskan langkah-langkah yang tepat dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas, agar persiapan menuju PON 2028 dan PON 2032 dapat berjalan secara simultan dan bertahap, sehingga mampu menghasilkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional," sebut Rasman.
Anggaran pembinaan olahraga yang dialokasikan pada tahun ini hanya sebesar Rp16,5 Miliar, jauh lebih terbatas dibandingkan kebutuhan yang ada.
Karena itu, penggunaan anggaran harus dilakukan secara cermat dan tepat sasaran agar sejalan dengan visi Pemprov Kaltim dalam mewujudkan generasi emas melalui pembangunan sektor olahraga.
Sebagai bagian dari upaya efisiensi, Dispora Kaltim bersama KONI juga tengah mendorong perubahan pola pembinaan atlet.
Jika sebelumnya pembinaan dilakukan dengan pendekatan yang relatif sama dari tahun ke tahun, kini akan diterapkan sistem klasifikasi yang lebih terukur.
Dalam skema baru tersebut, atlet akan dibagi ke dalam beberapa kategori, yakni atlet andalan, unggulan, harapan, dan pembinaan.
Klasifikasi ini diharapkan mampu mempermudah penentuan prioritas program dan alokasi anggaran.
Perubahan sistem ini penting dilakukan agar dana yang tersedia benar-benar fokus pada cabang olahraga dan atlet yang memiliki peluang besar meraih prestasi.
"Kalau pola yang digunakan masih sama seperti periode sebelumnya, maka berapa pun anggaran yang tersedia akan habis. Karena itu kita harus lebih selektif dan lebih terukur dalam menentukan prioritas pembinaan," tegasnya.
Rasman mengingatkan KONI maupun pengurus provinsi (Pengprov) cabor agar tidak lagi menggunakan pola pikir lama dalam menyusun program kerja.
Ia mengaku memperoleh informasi anggaran olahraga pada tahun mendatang berpotensi mengalami penurunan.
Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi alarm bagi seluruh organisasi olahraga di Kaltim untuk segera beradaptasi.
"Tahun ini anggarannya sedikit. Tahun depan, berdasarkan informasi yang saya dengar, bisa jadi turun lagi. Ini alarm yang sangat berbahaya apabila KONI dan Pengprov masih memiliki mindset yang sama seperti sebelumnya," ujar Rasman.
Transformasi dalam tata kelola olahraga sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi.
Seluruh pihak harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi fiskal daerah tanpa mengurangi target prestasi yang ingin dicapai.
"Dengan kondisi anggaran yang terbatas, kita harus memastikan setiap rupiah yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat bagi peningkatan prestasi olahraga Kaltim," pungkas Rasman.
Melalui strategi pembinaan yang lebih selektif dan berbasis prioritas, Dispora Kaltim berharap persiapan atlet menuju PON 2028 dan PON 2032 dapat berjalan lebih efektif.
Langkah ini juga diharapkan mampu menciptakan sistem pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya menghasilkan prestasi sesaat, tetapi juga melahirkan atlet-atlet unggulan yang mampu bersaing di level nasional maupun internasional.
Editor: Aspian Nur