Menurut Faisal, target tersebut tidak mudah dicapai jika melihat capaian Kaltim pada beberapa edisi PON sebelumnya. Berdasarkan perhitungannya, Kaltim masih harus meningkatkan perolehan medali emas secara signifikan agar mampu bersaing di papan atas nasional.
Pada PON terakhir, Kaltim meraih sekitar 30 medali emas. Untuk mencapai posisi tiga besar, Kaltim diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 40 medali emas.
“Kalau melihat statistik PON-PON sebelumnya, untuk bisa masuk tiga besar kita butuh sekitar 75 hingga 80 medali emas. Itu pekerjaan yang sangat berat,” jelasnya pada Selasa (2/6/2026).
Karena itu, menurut Faisal, strategi pembinaan harus dilakukan secara lebih terukur dan realistis.
Faisal juga mengusulkan pola distribusi anggaran yang lebih fokus kepada cabor yang memiliki peluang besar meraih medali emas.
Ia bahkan menyarankan sekitar 80 persen anggaran KONI dialokasikan kepada cabor-cabor yang terbukti mampu menghasilkan medali emas atau berpotensi mempertahankan prestasinya.
“Saya mungkin lebih ekstrem. Delapan puluh persen anggaran harus diberikan kepada cabor yang bisa menghasilkan emas. Karena target kita sekarang bukan lagi membina dari nol, tetapi mengejar prestasi dalam waktu yang relatif singkat menuju PON 2028,” ujarnya.
Menurutnya, pola pemerataan anggaran yang selama ini diterapkan sudah tidak lagi relevan jika Kaltim benar-benar ingin mengejar target tiga besar nasional.
“Kita harus fokus kepada cabor yang medalinya banyak dan punya potensi besar. Kalau masih dibagi rata, saya kira akan sulit mencapai target tersebut,” katanya.
Selain persoalan anggaran dan pembinaan, Faisal juga menyoroti kondisi sejumlah fasilitas olahraga di Kaltim yang dinilai belum memenuhi standar nasional maupun internasional.
Ia mengungkapkan hasil verifikasi yang dilakukan PSSI terhadap beberapa stadion utama di Kaltim menunjukkan masih banyak kekurangan yang harus dibenahi.
“Kita bangga punya Stadion Palaran, Segiri, dan Sempaja. Tetapi ketika dilakukan verifikasi, ternyata ketiganya masih belum memenuhi standar yang dibutuhkan. Bahkan GOR yang kita banggakan juga masih memiliki banyak kekurangan,” ungkapnya.
Menurut Faisal, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah karena aset olahraga yang sebenarnya sangat potensial belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung pembinaan atlet.
“Kita punya aset besar, tetapi banyak yang menjadi aset mati. Padahal kalau dikelola dengan baik bisa menjadi pusat pembinaan atlet yang luar biasa,” tutupnya.
Editor: Erwin