Hal tersebut disampaikan Faisal saat menjadi narasumber dalam diskusi olahraga prestasi yang digelar Lembaga Kajian Olahraga (LeKOP) bersama KONI Kaltim, yang berlangsung di Kolam Ulin Arya Samarinda Selasa (2/6/2026).
Dalam paparannya, Faisal menyoroti kondisi keuangan daerah yang mengalami penurunan signifikan dan akan berdampak langsung terhadap pembiayaan olahraga prestasi di Kaltim.
"APBD Kaltim yang sebelumnya berada di kisaran Rp20 Triliun hingga sempat menyentuh Rp25 Triliun, kini turun menjadi sekitar Rp14 Triliun akibat berkurangnya dana bagi hasil (DBH)," kata Faisal.
Kondisi tersebut bukan hanya terjadi dalam jangka pendek. Bahkan pada tahun mendatang, APBD Kaltim diperkirakan kembali menurun hingga berada di kisaran Rp12 Triliun. "Artinya kita harus mulai menyadari bahwa KONI bukan lagi satu-satunya sumber pendanaan untuk menciptakan prestasi olahraga di Kaltim," katanya.
Faisal menilai kekuatan pembinaan olahraga ke depan harus lebih banyak berada di tangan masing-masing cabor. Karena itu ia mengingatkan agar pengurus cabor tidak lagi hanya dijadikan wadah pencitraan atau kepentingan politik. "Sudah saatnya berhenti mencari pengurus cabor yang hanya ingin tampil atau sekadar membangun branding politik. Cari orang-orang yang benar-benar mau berjuang untuk kemajuan cabor tersebut," tegasnya.
Dalam kondisi keterbatasan anggaran saat ini, fungsi KONI lebih tepat sebagai koordinator dan mediator, bukan lagi sebagai institusi yang membina atlet dari nol hingga menjadi juara. "KONI tidak mungkin lagi menjadi lembaga yang mencari bibit atlet usia dini dan membina semuanya. Itu sudah sangat berat dilakukan dalam situasi anggaran sekarang," tutup Faisal.
Editor: Aspian Nur